Petikhasil.id, BANDUNG – Gaya hidup sehat dan ramah lingkungan kini makin populer di kalangan anak muda. Salah satu tren yang mencuri perhatian adalah hidroponik sistem bercocok tanam tanpa tanah yang memanfaatkan air dan nutrisi cair. Tak lagi dianggap sebagai hobi orang tua di desa, kini hidroponik menjelma menjadi gaya hidup urban farming yang digemari kaum milenial dan Gen Z di berbagai kota besar Indonesia.
Dari atap gedung di Jakarta hingga balkon apartemen di Surabaya, anak-anak muda mulai menanam selada, kangkung, dan bayam menggunakan sistem hidroponik. Mereka tak sekadar menanam untuk dikonsumsi pribadi, tetapi juga menjadikannya sebagai peluang bisnis dan sarana ekspresi diri di media sosial.
Kenapa hidroponik begitu digemari generasi muda?
Menurut data Kementerian Pertanian, minat terhadap pertanian urban meningkat hingga 30% dalam tiga tahun terakhir. Hidroponik dianggap praktis, efisien, dan sesuai dengan gaya hidup perkotaan yang serba cepat.
Selain praktis, hidroponik juga memberikan kepuasan tersendiri. Banyak anak muda yang membagikan hasil kebunnya di Instagram dan TikTok, memperlihatkan bagaimana mereka menanam sayur di ruang sempit tapi menghasilkan panen yang melimpah. Visual hijau dan kesan ‘hijau modern’ membuat konten hidroponik sangat menarik bagi generasi digital.
Baca lainnya: Mengenal Perbedaan Sayuran Hidroponik dan Konvensional: Apakah Lebih Sehat?
Dari hobi jadi bisnis
Tak sedikit yang menjadikan hidroponik sebagai sumber penghasilan. Dengan modal awal sekitar Rp2–3 juta, seseorang sudah bisa memulai sistem hidroponik sederhana di rumah. Hasil panen seperti selada, pakcoy, dan kale bisa dijual ke restoran, katering sehat, atau langsung ke konsumen lewat marketplace.
Bisnis hidroponik juga dianggap lebih stabil karena permintaan sayur segar terus meningkat, terutama dari konsumen yang sadar akan pentingnya gaya hidup sehat.
Tren hidroponik di kalangan muda tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga sosial dan ekologis. Bertani di rumah membantu mengurangi jejak karbon dari transportasi sayuran, menghemat air hingga 90 persen dibanding metode konvensional, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan.






