Kopi Ciremai dari Lereng Gunung ke Pasar Dunia

Petikhasil.id, KUNINGAN — Pagi baru saja menurunkan embun di kaki Gunung Ciremai ketika Komala (60), petani kopi asal Desa Cibeureum, Kecamatan Cilimus, Kuningan, melangkah ke kebun. Di pundaknya tergantung keranjang bambu tua, saksi bisu dari kerja keras selama puluhan tahun.

“Setiap langkah ke kebun ini seperti menyusuri nasib. Kopi bukan sekadar minuman, tapi martabat kami,” ujarnya lirih.

Di wilayah subur Kuningan dan Majalengka yang memeluk lereng Ciremai, ribuan petani menanam kopi arabika dengan ketekunan yang jarang terlihat. Mereka hidup dari tanah dan cuaca yang sering tak menentu, sementara harga kopi ditentukan oleh pihak-pihak yang tak pernah menyentuh lumpur kebun.

Selama bertahun-tahun, petani seperti Komala hanya menjadi penonton di panggung industri kopi global. “Kami kerja dari tanam sampai jemur, tapi harga tetap orang lain yang tentukan,” ucapnya.

Berita Lainya: Kuningan Genjot Hilirisasi Kopi | Kopi Robusta Fine: Bukan Cuma Arabika yang Bisa Specialty

Para tengkulak datang dengan truk besar membawa uang tunai dan harga sepihak. Satu kilogram kopi merah atau cherry hanya dihargai Rp5.000 hingga Rp7.000. Tanpa alat pengolah dan waktu simpan yang cukup, petani tak punya pilihan selain menjual segera sebelum buah membusuk. Sistem ini perlahan menjerat generasi demi generasi. Banyak anak muda memilih pergi—merantau, bekerja di kota, atau menjadi Pekerja Migran Indonesia.

Gerakan dari Lereng Ciremai

Tahun 2025 menjadi titik balik. Sejumlah petani, akademisi, dan pemerhati kopi dari Kuningan serta Majalengka mendirikan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai. Tujuannya sederhana: memberi identitas dan kekuatan hukum bagi kopi arabika Gunung Ciremai.

Ketua MPIG Buana Ciremai, Taufik Hermawan, mengenang awal perjuangan itu. “Kopi kita luar biasa, tapi tanpa posisi tawar, semuanya bisa hilang—harga, nama, bahkan cerita,” katanya.

Melalui kerja sama dengan Bank Indonesia, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kemenkumham, dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat, kopi arabika Gunung Ciremai akhirnya diakui sebagai produk berindikasi geografis (IG). Sertifikat itu menjadi tonggak penting bahwa kopi Ciremai hanya boleh ditanam di wilayah tertentu dengan metode khas.

Setelah pengakuan IG diraih, petani mulai memproses hasil panen sendiri. Mereka melakukan sortasi, fermentasi, dan penjemuran hingga menghasilkan green bean berkualitas tinggi. Harga kopi pun melonjak tajam. “Dulu cuma Rp25 ribu per kilo, sekarang bisa Rp80 ribu, bahkan lebih kalau lolos cupping,” ujar Wahyu, petani muda di koperasi MPIG.

Kini, kafe-kafe dari Bandung hingga Tokyo mulai melirik kopi Ciremai. Lebih dari sekadar komoditas, petani kini bicara soal profil rasa, kelembapan, dan teknik honey process—bahasa yang dulu hanya dikenal barista di kota besar.

Dari Lereng Gunung ke Panggung Dunia

Harapan baru juga datang dari arah Cirebon. Bank Indonesia (BI) Perwakilan Cirebon menyiapkan dua UMKM kopi binaan untuk ekspor perdana pada tahun 2026. Kepala Kantor Perwakilan BI Cirebon, Kiptiah Riyanti, menegaskan langkah ini bukan sekadar proyek bantuan, melainkan strategi penguatan kapasitas petani.

“Ini bukan mimpi. Kami ingin ekspor menjadi tujuan yang bisa dipetakan,” katanya dalam forum pengembangan UMKM di Cirebon, awal Juni 2025.

Wilayah timur Jawa Barat, termasuk lereng Ciremai, memiliki ketinggian ideal 1.000–1.500 mdpl. Karakter rasa kopi yang kompleks dan lembut membuatnya diminati pasar specialty coffee global. Melalui pelatihan, petani diajari manajemen usaha, sertifikasi, hingga strategi promosi internasional.

“Kami bantu mereka memahami rantai nilai, dari panen sampai branding,” ujar Kiptiah. BI juga menggandeng lembaga sertifikasi dan konsulat dagang untuk memastikan produk memenuhi standar ekspor, termasuk soal residu pestisida dan traceability.

Targetnya, tahun 2026 menjadi tonggak ekspor kopi Ciremai ke Jepang dan Korea Selatan. “Tidak buru-buru, tapi realistis dan disiplin,” tambahnya.

Kopi dan Harapan yang Disangrai di Lereng Ciremai

Bagi BI Cirebon, pengembangan kopi bukan sekadar perdagangan, tetapi juga kedaulatan ekonomi lokal. UMKM yang kuat menciptakan daya tahan ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja baru.

Lebih dari itu, kopi kini menjadi bagian budaya baru di kalangan generasi muda. Petani bukan hanya penghasil, tetapi juga peracik cerita menggabungkan cita rasa, teknologi, dan semangat tanah sendiri.

Di lereng sunyi Ciremai, suara giling kopi kembali terdengar setiap pagi. Asap tungku kayu mengepul pelan, menyatu dengan udara gunung. Mereka mungkin belum paham arti cupping score atau HS code, tapi mereka tahu satu hal: panen tahun depan harus lebih baik, karena ada harapan yang sedang disangrai perlahan.

Dan kopi dari Ciremai kini tengah bersiap berjalan lebih jauh, melewati batas provinsi, melampaui benua bukan sebagai tamu, tapi sebagai tuan rumah cita rasa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *