Petikhasil.id, BANDUNG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang menjajaki kerja sama dengan PT Elevasi Agro Indonesia (Elevarm) untuk memodernisasi produksi Ubi Cilembu dan mendorong produk berorientasi ekspor.
Langkah ini diambil untuk mengatasi stagnasi produksi dan rendahnya kuantitas ekspor Ubi Cilembu, meskipun komoditas khas daerah ini memiliki potensi di pasar global yang sangat besar.
Perwakilan PT Elevarm, Bayu, menilai permintaan Ubi Cilembu sangat besar di pasar global karena memiliki keunikan yang tidak bisa ditiru daerah lain.
Ia memaparkan bahwa permintaan global untuk komoditas ubi mencapai US$38 miliar pada 2023 dan diperkirakan akan naik signifikan menjadi US$60 miliar pada 2030.
“Permintaan global terus meningkat. Ubi Cilembu punya keunikan yang tidak bisa ditiru daerah lain,” kata Bayu dikutip, Jumat (28/11/2025).
Menurutnya, saat ini Ubi Cilembu menghadapi tantangan serius. Produksi petani hanya mampu memproduksi Ubi Cilembu berkisar 15-20 ton per hektare dan dari jumlah tersebut, hanya 25%-30% yang mampu masuk grade ekspor. Sisanya terpaksa dijual dengan harga yang jauh lebih rendah.
Rendahnya kualitas benih, menurunnya kesuburan tanah, dan minimnya inovasi budidaya disebut sebagai faktor utama penyebab stagnasi produksi dan kualitas ini.
Untuk menjaga kualitas madu khas yang hanya muncul dari karakteristik tanah Sumedang, PT Elevarm menawarkan konsep Transformasi Ekosistem Agro-Food Ubi Cilembu.
Konsep ini akan menerapkan pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, petani, swasta, dan komunitas. Fokus utamanya meliputi penyediaan benih unggul bebas virus, pendampingan budidaya modern, penguatan pascapanen, hingga pembangunan industri pengolahan berstandar ekspor.
Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila, mengapresiasi gagasan tersebut dan menegaskan kesiapan Pemkab untuk membuka ruang kolaborasi.
“Ubi Cilembu ini bukan sekadar komoditas, tapi identitas daerah. Sudah saatnya naik kelas, tidak hanya terkenal, tapi benar benar menguntungkan petani. Karena itu, kami menyambut baik konsep hilirisasi yang diajukan PT Elevarm,” ujar Fajar.
Pemkab Sumedang menilai kerja sama ini sebagai peluang emas untuk mengembalikan kejayaan Ubi Cilembu dan membuka lapangan kerja baru.
Berita Lainya: Ubi Cilembu: Manis dari Tanah Sumedang, Legenda Ubi yang Tak Bisa Dipalsukan | Prabowo Instruksikan Percepat Tanam Ubi Kayu dan Tebu di Merauke
Sebagai langkah awal, Pemkab akan menyiapkan pemetaan potensi lahan dan kelompok tani. Namun, Fajar menekankan bahwa kerja sama ini harus menghasilkan sistem yang berkelanjutan.
“Kami ingin ekosistem yang terbangun bukan hanya proyek sesaat, tapi sistem yang membuat petani tumbuh, industri hidup, dan pasar terbuka. Kalau hulu–hilirnya kuat, Sumedang bisa menjadi pemain global untuk komoditas pangan fungsional,” tegasnya.
Dengan masuknya teknologi budidaya, sistem benih sehat, modernisasi pascapanen, dan pengolahan berbasis industri, nilai tambah Ubi Cilembu diproyeksikan akan meningkat drastis.
Pemkab berharap segera terwujud pilot project yang konkret, dari lahan sampai produk olahan, di mana Sumedang kata dia siap menjadi laboratorium hidup untuk transformasi pertanian berbasis inovasi.***






