Inovasi Agritech Bikin Pendapatan Petani Kopi Naik 30%

Petikhasil.id, JAKARTA – Implementasi teknologi dalam sektor pertanian kopi dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menekan ongkos produksi perusahaan hingga lebih dari 30 persen.

CEO Pandawa Agri Indonesia, Kukuh Roxa, mengungkapkan inovasi teknologi pada input pertanian membantu petani kopi mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis tanpa mengorbankan volume panen.

Menurut Kukuh, teknologi tersebut bekerja dengan mencampurkan reduktan pada input pertanian sehingga residu kimia di dalam tanah berkurang. Dampaknya, lahan yang sebelumnya terdegradasi mengalami peningkatan produktivitas signifikan.

Baca Lainya: 10 Negara Penghasil Kopi Berkualitas Tinggi di Dunia, Indonesia Salah Satunya | Akses Keuangan Formal Jadi Strategi OJK Cirebon Dorong UMKM Kopi Naik Kelas

“Di Pagar Alam, Sumatera Selatan, intervensi teknologi ini meningkatkan produksi hingga dua kali lipat, dari sekitar 600 kilogram menjadi mendekati 1,3 ton per hektare,” ujar Kukuh di Jakarta, pekan lalu.

Selain mendorong kenaikan volume produksi, penerapan teknologi ini juga meningkatkan efisiensi struktur biaya. Kukuh memperkirakan total pendapatan petani berpotensi naik hingga 30 persen karena penghematan belanja input kimia.

Biaya Opersional Ditekan

Dengan berkurangnya penggunaan bahan sintetis, biaya operasional dapat ditekan tanpa menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil panen kopi. Teknologi lain yang turut dimanfaatkan adalah asuransi indeks cuaca hasil kolaborasi dengan Blue Marble.

Blue Marble Parametric Climate Insurance APAC Head, Reinhard Marcellino, menjelaskan bahwa asuransi tersebut bersifat parametrik dan mengandalkan data satelit untuk memantau kondisi cuaca secara real-time.

Mekanismenya memanfaatkan data curah hujan dan parameter iklim lainnya. Berbeda dengan asuransi konvensional, klaim tidak memerlukan survei kerusakan manual ke lapangan.

“Klaim dapat dipicu secara otomatis ketika data satelit menunjukkan ambang batas cuaca ekstrem terlampaui. Ini memberikan kepastian dan kecepatan bagi petani,” jelas Reinhard.

Skema ini dinilai mampu meningkatkan perlindungan terhadap risiko perubahan iklim yang semakin tidak menentu, sekaligus menjaga stabilitas pendapatan petani kopi. Sementara itu, Louis Dreyfus Company (LDC) memperkuat inisiatif keberlanjutan di sektor kopi nasional melalui transisi menuju pertanian regeneratif.

Regional Manager for Stronger Coffee Initiative LDC, Chintara Diva Tanzil, menjelaskan bahwa pendekatan regeneratif berbeda dengan konsep sustainability konvensional.

Baca Lainya: 10 Negara Penghasil Kopi Berkualitas Tinggi di Dunia, Indonesia Salah Satunya | Akses Keuangan Formal Jadi Strategi OJK Cirebon Dorong UMKM Kopi Naik Kelas

Menurutnya, sustainability berfokus pada mempertahankan kondisi yang ada, sedangkan pertanian regeneratif lebih aktif dalam memperbaiki dan merevitalisasi lahan yang terdegradasi.

Stronger Coffee Initiative memiliki tiga pilar utama, yakni kesejahteraan petani, rendah karbon, dan pertanian regeneratif. Pendekatan ini mencakup pemulihan kesehatan tanah, peningkatan keanekaragaman hayati, serta penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim.

Kolaborasi antara LDC, Pandawa Agri Indonesia, dan Blue Marble diharapkan mampu memperkuat rantai pasok kopi nasional sekaligus meningkatkan daya saing komoditas kopi Indonesia di pasar global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *