Jujutsu Kaisen dan ‘Kutukan’ Pertanian Indonesia

Petikhasil.id, BANDUNG — Di dunia Jujutsu Kaisen, kutukan lahir dari emosi manusia yang menumpuk. Takut, marah, cemas, dan luka yang dibiarkan terlalu lama berubah menjadi ancaman. Karena itu, para penyihir di cerita tersebut bukan sekadar petarung. Mereka adalah orang-orang yang berdiri di garis depan untuk menghadapi sesuatu yang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya nyata.

Kalau ditarik ke dunia pertanian, gambaran itu terasa dekat. Sebab pertanian Indonesia juga berhadapan dengan banyak “kutukan” yang tidak kasatmata, tetapi hasilnya bisa dirasakan semua orang. Ada lahan yang makin sempit, petani yang terus menua, cuaca yang makin sulit ditebak, hingga harga panen yang sering tidak ramah kepada mereka yang bekerja paling keras.

Baca Lainya: Dari Layar ke Lahan, Roblox Grow a Garden Tumbuhkan Benih Cinta Bertani | Dari Harvest Moon ke Sawah Nyata, Ketika Petani Virtual Tumbuh Jadi Dewasa

Kutukan yang Tidak Selalu Tampak

Masalah terbesar dalam pertanian sering kali bukan sesuatu yang datang mendadak, melainkan yang tumbuh perlahan dan dianggap biasa. Lahan sempit dianggap nasib. Petani tua dianggap kewajaran. Anak muda yang menjauh dari sawah dianggap sekadar perubahan zaman.

Padahal, justru dari situlah persoalan besar mulai mengakar. Ketika masalah terus dibiarkan, ia berubah menjadi beban panjang yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam dunia Jujutsu Kaisen, kutukan menjadi kuat karena terus dipelihara oleh ketakutan dan keputusasaan. Dalam pertanian, “kutukan” itu hidup dari stigma, ketidakpedulian, dan sistem yang belum sepenuhnya berpihak.

Yang membuatnya terasa menyedihkan, semua itu sering hadir dalam bentuk yang sunyi. Tidak meledak-ledak, tidak dramatis, tetapi perlahan menggerus harapan.

Petani Kecil di Tengah Beban Besar

Pertanian Indonesia sesungguhnya masih ditopang oleh jutaan orang. Namun, di balik besarnya jumlah itu, ada kenyataan bahwa banyak petani bekerja dalam skala kecil, dengan daya tahan ekonomi yang juga terbatas.

Di banyak daerah, petani tidak hanya berhadapan dengan persoalan budidaya, tetapi juga dengan ketidakpastian pasar, mahalnya biaya produksi, dan sempitnya ruang untuk berkembang. Mereka menanam dengan tekun, tetapi belum tentu menikmati hasil yang setimpal. Mereka menjaga tanah tetap hidup, tetapi sering kali hidup mereka sendiri tetap berada di batas rapuh.

Di titik inilah pertanian bukan lagi sekadar soal tanam dan panen. Ia menjadi soal martabat, keberlanjutan, dan masa depan.

Saat Anak Muda Menjauh dari Sawah

Salah satu “kutukan” terbesar pertanian hari ini adalah pudarnya minat generasi muda. Banyak anak muda tumbuh dengan anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan yang berat, kotor, dan tidak menjanjikan. Sawah tidak lagi dilihat sebagai ruang hidup, melainkan simbol keterbelakangan yang ingin segera ditinggalkan.

Padahal, jika generasi muda terus menjauh, pertanyaan besarnya sederhana namun genting: siapa yang akan menanam pangan kita di masa depan?

Masalah regenerasi tidak bisa diselesaikan hanya dengan ajakan romantis untuk kembali ke desa. Anak muda tidak cukup hanya diberi semangat, tetapi juga perlu diberi alasan yang masuk akal. Bertani harus terlihat mungkin, layak, dan punya masa depan. Harus ada akses pengetahuan, teknologi, pasar, dan nilai tambah yang membuat pertanian tidak hanya mulia secara narasi, tetapi juga sehat secara ekonomi.

Petani Muda Sebagai Penyihir Zaman Ini

Kalau dalam Jujutsu Kaisen ada orang-orang yang berani menghadapi kutukan, maka dalam dunia pertanian Indonesia, peran itu seharusnya diisi oleh petani muda, komunitas tani, penyuluh, inovator desa, hingga pelaku usaha pangan yang mau turun langsung ke lapangan.

Mereka memang bukan penyihir. Namun mereka melakukan hal yang serupa. Mereka menghadapi masalah yang rumit, sering kali sepi perhatian, dan hasil perjuangannya tidak langsung terlihat. Mereka belajar tentang tanah, cuaca, bibit, hama, pasar, kemasan, dan distribusi. Mereka bukan hanya menanam, tetapi juga mencoba memutus rantai masalah yang selama ini membuat pertanian terasa berat.

Musuh mereka bukan monster besar. Musuhnya jauh lebih dekat dan lebih nyata. Ia bisa berupa stigma bahwa petani selalu kalah. Ia bisa berupa harga yang tidak adil. Ia bisa berupa cuaca yang berubah tanpa aba-aba. Ia juga bisa berupa rasa malu untuk mengaku bahwa masa depan justru bisa tumbuh dari lahan sendiri.

Sawah Juga Punya Pahlawan

Kita sering membayangkan pahlawan sebagai sosok besar yang muncul di saat genting. Padahal di desa-desa, pahlawan sering hadir dalam bentuk yang sederhana. Ia adalah orang yang tetap menanam meski musim tidak menentu. Ia adalah pemuda yang mencoba mengolah hasil panen agar nilainya naik. Ia adalah keluarga tani yang bertahan ketika keadaan belum sepenuhnya berpihak.

Mereka jarang masuk sorotan. Tidak ada musik latar heroik. Tidak ada tepuk tangan panjang. Tetapi dari tangan-tangan seperti itulah pangan lahir setiap hari.

Karena itu, pertanian perlu lebih sering diceritakan dengan bahasa yang dekat dengan generasi sekarang. Ketika anime bisa membuat orang memahami perjuangan, kehilangan, loyalitas, dan keberanian, pertanian pun bisa dibaca dengan cara yang sama. Sebab di balik sawah, kebun, dan kandang, ada pertarungan harian yang tidak kalah berat. Hanya saja, musuhnya tidak selalu terlihat, dan pahlawannya jarang disebut.

Melawan Kutukan dengan Harapan

Jujutsu Kaisen mengajarkan bahwa kutukan tidak akan hilang hanya dengan dihindari. Ia harus dikenali, dihadapi, dan diputus. Pertanian Indonesia pun begitu. Kutukan berupa stigma, minimnya regenerasi, dan rapuhnya posisi petani kecil tidak akan selesai hanya dengan slogan.

Ia membutuhkan anak muda yang mau turun tangan. Ia membutuhkan sistem yang lebih adil. Ia membutuhkan penghargaan yang lebih besar kepada mereka yang menjaga tanah tetap hidup.

Baca Lainya: Dari Layar ke Lahan, Roblox Grow a Garden Tumbuhkan Benih Cinta Bertani | Dari Harvest Moon ke Sawah Nyata, Ketika Petani Virtual Tumbuh Jadi Dewasa

Sebab pada akhirnya, pangan tidak lahir dari mantra. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang mau kotor, sabar, dan tetap percaya bahwa sesuatu yang baik masih bisa ditanam, meski dunia sedang tidak baik-baik saja. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *