Petikhasil.id, JAKARTA — Risiko inflasi pangan pada 2026 meningkat seiring potensi penurunan produksi beras akibat fenomena El Nino yang berkepanjangan. Kenaikan biaya pupuk serta gangguan rantai pasok global turut menekan sektor Pertanian.
Faktor produksi, distribusi, dan biaya input kini saling berkaitan. Situasi ini memperbesar peluang kenaikan harga pangan dalam durasi yang lebih panjang.
Baca Juga: Stok Beras 4,2 Juta Ton dan Ujian El Nino bagi Sawah Indonesia
Produksi Beras Menurun
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, melihat penurunan produksi beras mulai terjadi sejak awal tahun. Petani mengurangi luas panen sehingga output padi ikut menyusut.
Ia memproyeksikan risiko meningkat karena El Nino berpotensi berlangsung hingga 2027. Kekeringan melanda sejumlah wilayah, sementara hujan ekstrem dan banjir muncul di sentra produksi seperti Sumatera dan Aceh.
Perubahan musim mengganggu jadwal tanam. Petani menghadapi keterlambatan panen dan penurunan hasil, terutama pada awal tahun.
Biaya Naik, Pasokan Menyusut
El Nino mendorong kenaikan harga melalui dua jalur. Petani menambah biaya irigasi dan menyesuaikan pola tanam. Di sisi lain, kekeringan menurunkan produktivitas sehingga pasokan beras berkurang.
Kombinasi ini memperbesar peluang kenaikan harga gabah dan beras. Jika berlangsung lama, penurunan pasokan dapat berlanjut hingga akhir 2026.
Upaya Mitigasi Dipercepat
Otoritas mempercepat perluasan areal tanam dan mendorong percepatan musim tanam melalui gerakan kejar tanam.
Perbaikan bendungan, jaringan irigasi, serta pompanisasi terus berjalan untuk menjaga pasokan air. Petani juga menerima benih tahan kekeringan dan tambahan pupuk bersubsidi hingga 9,5 juta ton.
Cadangan pangan diperkuat untuk menjaga ketersediaan. Di sisi konsumsi, operasi pasar dan distribusi bantuan pangan digencarkan guna menahan kenaikan harga.
Harga Masih Fluktuatif
Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, menilai harga pangan masih berfluktuasi, terutama cabai rawit merah.
“Harga sempat naik dari Rp80.000 hingga Rp120.000,” ujarnya.
Ia menilai stok beras masih cukup sehingga harga relatif terkendali. Namun, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Distribusi dan Energi Jadi Faktor
Kenaikan biaya logistik dan energi ikut memengaruhi harga di tingkat konsumen. Di beberapa wilayah, distribusi komoditas belum merata.
Minyak goreng rakyat, misalnya, masih menghadapi kendala penyaluran di luar pasar yang diawasi.
Reynaldi menegaskan kenaikan harga pupuk langsung menaikkan biaya produksi petani.
Industri Pupuk Antisipasi Risiko
PT Pupuk Indonesia (Persero) menjaga kapasitas produksi di level 14,8 juta ton per tahun.
Sekretaris Perusahaan, Yehezkiel Adiperwira, menyebut perusahaan mengandalkan gas domestik untuk menjaga stabilitas produksi urea.
Geopolitik global tetap memengaruhi harga pupuk. Perusahaan merespons dengan diversifikasi pasokan dan penguatan stok.
Inflasi Berpotensi Bertahan Lama
Gabungan faktor produksi, biaya, dan distribusi membuat inflasi pangan berpotensi bertahan lebih lama. Harga dapat naik bertahap, tergantung pada hasil panen dan efektivitas kebijakan stabilisasi.
Jika gangguan berlanjut, komoditas strategis seperti beras dan hortikultura berpotensi mengalami kenaikan lebih tinggi.
Penguatan Pertanian Jadi Kunci
Situasi ini menegaskan pentingnya penguatan sektor pertanian secara menyeluruh. Peningkatan produktivitas, distribusi yang efisien, dan kestabilan input menjadi faktor utama pengendalian harga.
Dalam dinamika global yang tidak menentu, ketahanan pangan tetap menjadi fondasi stabilitas ekonomi nasional. (PtrA)






