Petikhasil.id, CIREBON — Produksi tebu di Kabupaten Cirebon meningkat pada 2025 di tengah harga gula pasir yang masih tinggi di tingkat konsumen. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi mencapai 22.637,99 ton pada awal 2026, naik dari 21.305,68 ton pada 2024.
Kenaikan ini terjadi saat harga gula pasir bertahan di kisaran Rp18.000–Rp20.000 per kilogram di sejumlah pasar tradisional.
Kepala BPS Kabupaten Cirebon, Januarto Wibowo, menyatakan petani mulai meningkatkan produksi seiring membaiknya aktivitas perkebunan.
“Produksi tebu di Cirebon kembali menguat. Pada 2025, produksi naik lebih dari 1.300 ton dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga:Prabowo Instruksikan Percepat Tanam Ubi Kayu dan Tebu di Merauke
Sentra Tebu Dorong Produksi
Petani di Kecamatan Pasaleman menghasilkan 4.940,76 ton pada 2025 dan menjadi penyumbang terbesar. Petani di Karangsembung mencatat 2.906,71 ton, sementara Karangwareng mencapai 2.175,68 ton.
Januarto menilai wilayah tersebut memiliki basis perkebunan yang kuat. Petani di kawasan ini didukung jaringan produksi dan industri penggilingan yang relatif stabil.
Kondisi ini mendorong peningkatan produktivitas di tingkat daerah.
Harga Gula Masih Tinggi
Meski produksi meningkat, harga gula pasir belum menunjukkan penurunan signifikan. Harga di pasar tetap bertahan tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Pedagang di Pasar Sumber, Pasar Pasalaran, dan Pasar Ciledug menjual gula di atas Rp18.000 per kilogram. Bahkan, sebagian pedagang mencatat harga mencapai Rp20.000.
Sari, pedagang sembako di Pasar Sumber, mengaku pasokan dari distributor belum stabil.
“Permintaan tetap tinggi, tapi kiriman barang tidak sebanyak biasanya,” katanya.
Produksi Naik di Sejumlah Wilayah
Petani di Kecamatan Waled meningkatkan produksi dari 1.533,81 ton pada 2024 menjadi 2.314,70 ton pada 2025. Petani di Karangsembung juga mencatat lonjakan produksi yang signifikan.
Namun, petani di Sedong dan Mundu justru mengalami penurunan produksi. Sedong mencatat 56,83 ton, sedangkan Mundu 57,79 ton pada 2025.
Di sisi lain, petani di Dukupuntang, Depok, dan Arjawinangun mulai mencatat produksi tebu pada 2025. Kondisi ini menunjukkan adanya perluasan atau optimalisasi lahan.
“Petani mulai memanfaatkan lahan baru atau meningkatkan pendataan produksi,” kata Januarto.
Tantangan Hilirisasi dan Distribusi
Peningkatan produksi belum langsung berdampak pada harga karena pasar gula dipengaruhi faktor nasional. Stok, impor, dan distribusi tetap menjadi penentu utama harga di tingkat konsumen.
Januarto menilai pemerintah daerah perlu memperkuat rantai pasok, terutama pada tahap penggilingan dan distribusi.
Petani membutuhkan sistem serapan yang lebih efisien agar hasil panen tersalurkan dengan baik ke industri gula.
Perkuat Rantai Pertanian
Kenaikan produksi tebu menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian di Cirebon. Namun, pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara produksi dan distribusi.
Dengan memperbaiki hilirisasi, meningkatkan efisiensi logistik, dan memperkuat industri pengolahan, manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani.
Langkah ini penting untuk menjaga stabilitas harga gula sekaligus mendorong keberlanjutan sektor perkebunan tebu nasional. (PtrA)






