Petikhasil.id, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan luas panen jagung pipilan sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 1,69 juta hektare. Angka tersebut turun 3,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan luas panen itu diperkirakan ikut menekan produksi jagung nasional pada pertengahan 2026. Kondisi tersebut mulai memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan bahan baku pakan ternak dan stabilitas harga jagung di tingkat petani.
Potensi Panen Mulai Turun
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan luas panen jagung pada April 2026 sebenarnya masih meningkat dibanding tahun lalu.
BPS mencatat luas panen jagung pipilan April 2026 mencapai 240 ribu hektare. Pada periode yang sama tahun lalu, luas panen berada di angka 230 ribu hektare.
Namun, potensi luas panen pada Mei–Juli 2026 justru menunjukkan penurunan. BPS memperkirakan luas panen selama periode tersebut hanya mencapai 650 ribu hektare atau turun 4,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dengan demikian, total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 1,69 juta hektare atau mengalami penurunan sebesar 60 ribu hektare atau 3,55 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” ujar Pudji dalam rilis Berita Resmi Statistik BPS, Senin (2/6/2026).
Produksi Jagung Ikut Tertekan
BPS juga memperkirakan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen ikut mengalami penurunan sepanjang Januari–Juli 2026.
Pada April 2026, produksi jagung tercatat sebesar 1,38 juta ton. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan April 2025 yang mencapai 1,27 juta ton.
Meski demikian, produksi jagung pada Mei–Juli 2026 diperkirakan hanya mencapai 3,74 juta ton. Angka tersebut turun sekitar 0,28 juta ton atau 7,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dengan perkembangan tersebut, produksi jagung pipilan kering nasional sepanjang Januari–Juli 2026 diperkirakan mencapai 9,75 juta ton.
“Atau mengalami penurunan sebesar 0,28 juta ton atau 2,81 persen dibandingkan dengan Januari hingga Juli 2025,” kata Pudji.
Cuaca dan Hama Jadi Ancaman
Pudji menjelaskan angka potensi panen masih dapat berubah mengikuti kondisi pertanaman di lapangan. Sejumlah faktor masih berpotensi memengaruhi realisasi panen dalam beberapa bulan ke depan.
BPS mencatat ancaman seperti serangan hama, organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen dapat menekan produksi jagung nasional.
Selain untuk jagung pipilan, sebagian lahan juga digunakan petani untuk jagung muda dan hijauan pakan ternak. Kondisi tersebut ikut memengaruhi total luas panen jagung pipilan nasional.
Bagi petani, penurunan produksi jagung tidak hanya berdampak pada hasil panen. Kondisi itu juga bisa memengaruhi harga pakan ternak, biaya produksi peternakan, hingga pasokan pangan berbasis jagung di berbagai daerah. (PtrA)






