Petikhasil.id, JAKARTA — Pemerintah menyiapkan bantuan subsidi kedelai bagi perajin tahu dan tempe untuk menahan dampak kenaikan biaya bahan baku impor. Melalui program Bantuan Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan (SPHP), pemerintah akan memberikan subsidi hingga Rp2.000 per kilogram.
Kebijakan ini menjadi bagian dari paket stimulus ekonomi semester II/2026. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus membantu pelaku usaha pangan skala kecil yang selama ini bergantung pada kedelai impor.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah menyiapkan kuota awal sebanyak 250.000 ton kedelai pada tahap pertama.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp500 miliar untuk menjalankan program tersebut.
“Kebutuhan kedelai nasional sekitar 2,5 juta ton per tahun. Untuk tahap awal, kami siapkan 250.000 ton dengan subsidi Rp2.000 per kilogram,” kata Airlangga, dikutip Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu Terdesak
Menahan Tekanan Biaya Produksi
Pemerintah akan menyalurkan subsidi ketika harga kedelai berada di atas Harga Acuan Pembelian (HAP). Dengan skema ini, perajin tahu dan tempe bisa memperoleh bahan baku dengan harga yang lebih terjangkau.
Kenaikan harga kedelai selama beberapa tahun terakhir kerap menekan pelaku usaha kecil. Banyak perajin terpaksa mengurangi ukuran produk atau menaikkan harga jual demi menjaga keberlangsungan usaha.
Padahal, tahu dan tempe merupakan sumber protein yang paling mudah dijangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketika harga kedelai naik, dampaknya tidak hanya dirasakan perajin, tetapi juga konsumen.
Karena itu, pemerintah berharap subsidi ini dapat menjaga keberlangsungan usaha tahu dan tempe sekaligus membantu menahan kenaikan harga pangan berbasis kedelai.
Produksi Lokal Belum Mampu Mengejar Kebutuhan
Tantangan terbesar sektor kedelai nasional masih terletak pada pasokan. Indonesia hingga kini masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan dalam negeri.
Kondisi tersebut terlihat di berbagai daerah, termasuk Jawa Barat yang menjadi salah satu pusat konsumsi tahu dan tempe nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan produksi kedelai masih tersebar di sejumlah sentra seperti Garut, Cianjur, Indramayu, dan Majalengka. Namun produksi tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan pangan yang terus meningkat.
Akibatnya, perajin tahu dan tempe masih bergantung pada pasokan impor, terutama dari Amerika Serikat dan Brasil. Ketergantungan ini membuat harga kedelai dalam negeri sangat sensitif terhadap perubahan harga global, nilai tukar rupiah, hingga gangguan rantai pasok internasional.
Saat harga kedelai dunia naik, pelaku usaha kecil biasanya menjadi kelompok pertama yang merasakan dampaknya.
Baca Juga: Sumedang Tawarkan Investasi 47 Hektare Lahan Pertanian Kedelai
Bagian dari Paket Stimulus Ekonomi
Selain subsidi kedelai, pemerintah juga menyalurkan bantuan beras kepada 33,24 juta penerima selama Juli hingga September 2026.
Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp17,54 triliun untuk program tersebut. Di luar sektor pangan, pemerintah juga menggulirkan berbagai stimulus lain, mulai dari insentif transportasi, program magang, pelatihan vokasi, hingga keringanan bea masuk bagi sejumlah sektor industri.
Secara keseluruhan, nilai stimulus ekonomi semester II/2026 mencapai sekitar Rp26,34 triliun.
Bagi perajin tahu dan tempe, subsidi kedelai bukan sekadar bantuan jangka pendek. Kebijakan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi di lahan pertanian, tetapi juga pada kemampuan menjaga keberlangsungan usaha rakyat yang mengolah hasil pangan hingga sampai ke meja makan masyarakat.
Di sisi lain, program ini juga menunjukkan pekerjaan rumah yang masih besar. Selama produksi kedelai dalam negeri belum mampu mengejar kebutuhan nasional, ketergantungan terhadap impor akan tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap kali pasar global bergejolak. (PtrA)






