Petikhasil.id, MAGELANG — Di sela guludan tanaman terong dan cabai kawasan Sawangan, Kabupaten Magelang, brangkasan sisa daun pangkasan dan limbah kulit buah kerap menumpuk di tepi kebun hingga mengundang bau busuk dan lalat pemukiman. Sebagian petani berniat membuat bak kompos terbuka, namun sering kali terhenti di tengah jalan karena tak sempat membalik tumpukan sampah setiap minggu atau enggan mencium bau pembusukan yang menyengat di pekarangan rumah.
Kerepotan mengelola tumpukan kompos di atas tanah ini sudah lama ditinggalkan oleh para pekebun tradisional di Inggris dan Selandia Baru. Mereka menerapkan teknik pengomposan langsung di dalam tanah yang dikenal dengan istilah trench composting (pengomposan parit terkubur).
Tanpa perlu membangun kotak kayu kompos, tanpa membeli cairan dekomposer botolan, dan tanpa bau busuk di udara, seluruh sisa sampah organik dapur dan kebun langsung dikubur di lorong parit antara dua barisan tanaman budidaya.
Baca Juga: Kenapa Plastik Bening Dipasang di Atas Tanah? Sains Solarization dari Lembah Yordan
Memutus akses lalat dan gas amonia lewat lapisan tanah
Cara kerja trench composting sangat bersahaja dan mengandalkan kapasitas penyaring alami tanah. Petani menggali parit memanjang selebar tiga puluh sentimeter dengan kedalaman tiga puluh hingga empat puluh sentimeter tepat di antara dua guludan tanaman sayuran yang sedang tumbuh.
Setiap kali ada limbah organik—mulai dari kulit pisang, sisa sayuran dapur, ampas kelapa, hingga kulit buah busuk—bahan tersebut langsung dibuang ke dalam dasar parit.
Setelah limbah dimasukkan, petani segera menutupnya dengan lapisan tanah galian setebal sepuluh hingga lima belas sentimeter. Tindakan menutup sampah dengan tanah padat ini menghentikan dua masalah utama pengomposan terbuka secara seketika.
Lapisan tanah di atasnya bertindak sebagai biofilter penahan gas. Senyawa amonia dan gas belerang berbau busuk yang menguap dari pembusukan bahan organik diserap oleh partikel liat dan mineral tanah, sehingga udara di atas kebun tetap segar tanpa bau busuk sedikit pun.
Lalat rumah dan lalat hijau kehilangan akses untuk meletakkan telur pada materi busuk karena terhalang lapisan tanah tebal.
Buruh bawah tanah yang mengantarkan makanan ke perakaran
Dekomposisi di dalam parit tanah yang lembap segera memicu kedatangan buruh tanah paling tekun: cacing tanah lokal (Lumbricus rubellus dan cacing tanah endogeik). Cacing tanah bergerak mendekati parit organik untuk melahap materi lapuk yang telah dilunakkan oleh bakteri tanah.
Selagi mencerna sampah organik di dalam perutnya, cacing tanah merayap bolak-balik melintasi profil tanah dari parit menuju zona perakaran tanaman cabai dan terong di bedengan samping.
Kotoran cacing (kascing) yang ditinggalkan di sepanjang liang jelajahnya mengandung konsentrasi nitrogen nitrat, fosfor tersedia, dan kalium yang lima hingga sebelas kali lebih padat dibanding tanah biasa.
Tanaman tidak perlu menunggu kompos matang di tempat lain baru kemudian diangkut dengan gerobak ke kebun. Melalui pergerakan cacing tanah, nutrisi diantarkan langsung ke rambut akar tanaman secara kontinu tanpa tenaga manusia.
Deposit air dan nutrisi untuk musim tanam berikutnya
Dalam kurun waktu delapan hingga dua belas pekan, seluruh materi organik di dalam parit telah terurai sempurna menjadi humus hitam yang remah dan dingin. Parit yang semula berupa saluran drainase kini berubah menjadi urat kesuburan yang sangat padat mikroba.
Ketika tanaman cabai pada musim tersebut selesai dipanen, petani tidak perlu menggali bedengan baru dari nol. Petani cukup membalik pola lahannya: parit bekas kuburan kompos diubah posisinya menjadi guludan tanam baru untuk musim berikutnya, sementara guludan lama digali menjadi parit kompos berikutnya (rotational trenching).
Baca Juga: Kenapa Menyemprotkan Busa Teh Kompos Menghentikan Cacar Buah Cabai? Sains Pasukan Renyk AECT
Sistem parit terkubur membuktikan bahwa daur ulang hara tidak menuntut instalasi pabrik atau ember kompos mewah. Tanah bumi adalah sistem daur ulang terbaik yang pernah ada, siap mengubah setiap helai sampah dapur menjadi kekuatan baru bagi kehidupan hijau berikutnya. (AK)







