Petikhasil.id, BREBES — Di areal pertanaman cabai merah kawasan Wanasari, Kabupaten Brebes, hujan rintik-rintik yang disusul terik matahari siang kerap menjadi lonceng kematian bagi buah cabai yang siap panen. Bercak-bercak hitam melingkar berair serupa luka bakar sundutan rokok mulai merebak di kulit buah. Petani menyebutnya penyakit patek atau cacar buah yang disebabkan oleh jamur patogen Colletotrichum capsici. Menghadapi patek, petani kerap kalap menyemprotkan aneka merek fungisida kimia setiap tiga hari sekali, namun spora jamur tetap saja melubangi buah cabai hingga membusuk gugur ke tanah.
Di Oregon dan California, Amerika Serikat, pendekatan radikal terhadap penyakit daun dan buah diperkenalkan oleh pakar biologi tanah Dr. Elaine Ingham melalui konsep jaring-jaring makanan tanah (Soil Food Web). Alih-alih membunuh jamur dengan racun kimia yang mensterilkan daun, petani di mancanegara menyemprotkan cairan kaya kehidupan mikroba yang disebut Teh Kompos Beraerasi (Actively Aerated Compost Tea / AECT).
Modal pembuatannya sangat murah: hanya satu kilogram kompos matang berkualitas tinggi, satu drum air, dan pompa gelembung udara akuarium kecil. Dalam waktu dua puluh empat jam, petani memanen triliunan jasad renik pemangsa spora penyakit.
Menyetrum koloni mikroba dengan gelembung oksigen
Kunci perbedaan mendasar antara teh kompos beraerasi dengan rendaman pupuk cair biasa terletak pada pasokan oksigen terlarut (dissolved oxygen).
Rendaman sampah organik tanpa aerasi di dalam ember tertutup cenderung beralih ke jalur anaerobik yang menghasilkan gas berbau busuk, senyawa alkohol yang membakar daun, dan bakteri patogen.
Dalam sistem AECT, satu kilogram kompos tanah hitam matang yang kaya jamur mikoriza dimasukkan ke dalam kantong kain kasa halus, lalu digantungkan di dalam drum berisi seratus liter air hujan atau air sumur yang bebas klorin kaporit.
Ke dalam dasar drum, dipasang batu aerator yang dihubungkan dengan pompa udara bertenaga kecil untuk menyemburkan gelembung-gelembung oksigen tanpa henti.
Sebagai pakan pembiak mikroba, petani menambahkan sedikit tetes tebu untuk makanan bakteri dan sedikit asam humat atau rumput laut kering untuk pakan jamur bermanfaat.
Pasokan oksigen yang melimpah memicu ledakan populasi jasad renik aerobik. Sel-sel bakteri pembungkus spora, hifa jamur saprofitik, dan protozoa berflagela membelah diri dari jutaan menjadi miliaran koloni per sendok makan cairan.
Membentengi pori stomata dari serbuan spora jahat
Setelah berbusa tebal selama dua puluh empat jam dan menebarkan aroma segar tanah hutan sehabis hujan, cairan teh kompos segera disaring dan disemprotkan ke seluruh permukaan daun dan buah tanaman cabai sebelum matahari terik.
Di sinilah pertahanan biologis tingkat tinggi bekerja. Permukaan daun dan kulit buah tanaman bukanlah bidang datar yang steril, melainkan bentang medan yang dipenuhi lekukan mikro dan lubang-lubang stomata tempat spora jamur Colletotrichum biasa mendarat dan berkecambah.
Ketika cairan AECT disemprotkan, miliaran bakteri dan jamur baik segera menempati seluruh celah mikro di permukaan daun dan buah (foliar occupation). Ruang hidup dan sumber makanan di permukaan kutikula daun habis diperebutkan oleh mikroba baik.
Jika spora jamur patek terbawa angin dan jatuh ke permukaan buah cabai, spora tersebut tidak menemukan celah kosong untuk menembus jaringan tanaman. Pasukan mikroba baik memproduksi metabolit antibiotik alami serta enzim kitinase yang melisiskan tabung kecambah spora jamur sebelum sempat melubangi kulit buah cabai.
Mengembalikan kesehatan kebun tanpa residu kimia
Penyemprotan teh kompos beraerasi tidak menyisakan racun kimia pada hasil panen. Cabai yang dipetik beberapa jam setelah penyemprotan aman dikonsumsi manusia dan bebas dari batas maksimum residu pestisida yang ketat di pasar modern.
Biaya pembuatannya hanya membutuhkan daya listrik setara lampu kamar tidur dan segenggam kompos daun lapuk yang melimpah di belakang rumah.
Baca Juga: Kenapa Plastik Bening Dipasang di Atas Tanah? Sains Solarization dari Lembah Yordan
Petani tidak lagi terbebani oleh harga kaleng fungisida kimia impor yang kian melambung. Kekuatan pelindung tanaman sesungguhnya sudah tersimpan di dalam tanah humus kebun itu sendiri, hanya menunggu dibangunkan oleh tiupan gelembung udara dan ketelitian tangan manusia. (AK)







