Petikhasil.id, CIANJUR — Di kebun tomat kawasan Pacet, Kabupaten Cianjur, tanaman tomat yang sedang mulai berbuah tampak layu lunglai di siang bolong meskipun tanah bedengannya basah tersiram air. Saat salah satu pohon dicabut dari tanah, tampaklah biang keroknya. Perakaran tanaman tidak lagi berupa serabut halus putih, melainkan membengkak penuh tonjolan-tonjolan bulat kasar serupa kutil. Fenomena bengkak akar ini dipicu oleh infeksi cacing parasit mikroskopis bernama nematoda puru akar (Meloidogyne incognita).
Serangan nematoda mengacaukan pembuluh xilem sehingga tanaman tidak mampu memompa air dan pupuk ke pucuk daun. Banyak petani merasa putus asa lalu membeli obat nematisida kimiawi berbahan aktif karbofuran yang sangat beracun bagi manusia dan mematikan mikroba penyubur tanah.
Ketergantungan pada racun tanah sintetis ini sama sekali tidak ditemui pada kebun-kebun tomat dan kentang di pedesaan India serta perkebunan organik Belanda. Para petani di sana menanam bunga tahi ayam atau marigold (Tagetes patula dan Tagetes erecta) bersanding rapat di antara guludan tanaman pangan mereka.
Bunga bermahkota jingga dan kuning menyala ini jauh melampaui fungsinya sebagai pemanis lanskap atau peneduh kebun. Di balik keindahannya, marigold adalah pabrik biokimia penumpas nematoda paling mematikan yang pernah diciptakan alam.
Racun kimiawi yang diaktifkan oleh cahaya akar
Daya tumpas marigold terhadap cacing tanah mikroskopis bertumpu pada senyawa fototoksik yang disintesis di dalam jaringan perakarannya, yaitu senyawa politienil dengan komponen utama alpha-terthienyl ($\alpha$-terthienyl).
Ketika nematoda puru akar remaja yang berenang di dalam lapisan air kapiler tanah tertarik mendekati rambut akar marigold, cacing ini mengira telah menemukan jaringan inang yang empuk untuk dihisap cairannya. Cacing menusukkan stilet mulutnya ke dalam sel korteks akar marigold.
Di sinilah jebakan mematikan bekerja. Begitu sel akar terluka, eksudat akar marigold melepaskan senyawa alpha-terthienyl ke dalam tubuh nematoda.
Di dalam jaringan tubuh cacing parasit, senyawa ini bereaksi memicu pembentukan spesies oksigen reaktif (reactive oxygen species / radikal bebas singlet oksigen) yang sangat destruktif. Radikal bebas ini mengoksidasi lipid membran seluler nematoda, merusak sistem enzim pernapasan, dan melumpuhkan saraf motorik cacing dalam hitungan menit.
Nematoda yang terpapar senyawa kimia ini tidak mampu bergerak atau bertelur lagi, lalu mati membusuk di zona perakaran marigold tanpa sempat menyelesaikan siklus reproduksinya.
Mengalihkan sasaran ulat grayak dari buah tomat
Keunggulan agronomis marigold tidak berhenti di bawah tanah. Di atas permukaan tanah, mahkota bunga marigold yang mekar mencolok dengan warna kuning dan jingga terang bertindak sebagai tanaman perangkap (trap crop) bagi serangga pemakan daun dan buah.
Kupu-kupu dan ngengat penggerek buah tomat (Helicoverpa armigera) memiliki fotoreseptor mata majemuk yang sangat tertarik pada spektrum warna kuning cerah. Hama ngengat lebih memilih mendarat dan meletakkan telurnya pada kuncup bunga marigold dibanding pada daun hijau tanaman tomat.
Petani cukup memantau rumpun-rumpun marigold di pinggir kebun. Begitu kelompok telur atau ulat muda tampak di kelopak marigold, petani dapat memetik bunga yang terinfeksi dan memusnahkannya secara manual tanpa perlu menyemprotkan pestisida kimia ke seluruh petak tanaman tomat.
Aroma tajam menyengat yang menguar dari kelenjar minyak atsiri di daun marigold juga mengandung senyawa terpenoid yang mengacaukan indra penciuman lalat putih kutu kebul (Bemisia tabaci), menghalangi penyebaran virus kuning keriting pada tanaman cabai dan tomat.
Biaya benih murah dengan imbalan tanah yang bersih
Menanam marigold di pematang atau di sela tanaman pokok hanya membutuhkan modal segenggam benih kering yang dapat dipanen berulang kali dari bunga tua yang mengering.
Petani tidak perlu merogoh kocek untuk membeli racun nematisida kalengan yang berharga ratusan ribu rupiah. Ketika musim tanam sayuran telah berakhir, seluruh brangkasan batang dan akar marigold dapat dicangkul dan dibenamkan langsung ke dalam tanah sebagai pupuk hijau (biofumigasi).
Proses pembusukan jaringan marigold di dalam tanah akan terus melepaskan uap senyawa belerang organik yang mensterilkan tanah dari sisa-sisa spora jamur patogen untuk musim tanam berikutnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Membakar Ranting, Begini Cara Kon-Tiki Menghasilkan Biochar untuk Tanah Masam
Menjaga kesehatan kebun tomat tidak selalu harus diawali dengan kepulan asap racun pestisida di udara. Dengan menanam sepenggal bunga marigold di sudut pematang, keindahan warna bunga dan ketajaman racun alaminya berpadu menjaga perakaran tetap sehat di bawah tanah. (AK)







