Petikhasil.id, TOSARI — Kabut tebal berwarna putih susu bergulung-gulung melintasi dinding tebing perbukitan kawasan Tosari, lereng Gunung Bromo, Kabupaten Pasuruan. Di puncak musim kemarau, hawa dingin menusuk tulang dan jarak pandang menyusut tinggal beberapa meter akibat pekatnya kabut gunung. Namun di bawah kaki tebing, para petani sayuran kubis dan kentang kerap kebingungan mencari sumber air untuk menyiram bedengan kebun mereka karena mata air pegunungan telah menyusut drastis.
Kondisi kabut basah yang melimpah berdampingan dengan tanah kering kerontang ini pernah menjadi kenyataan harian bagi para petani di Gurun Atacama, Chili, serta kawasan pegunungan anti-Atlas di Maroko.
Di wilayah yang hampir tidak pernah menerima tetesan hujan sepanjang tahun tersebut, para ilmuwan dan petani lokal mengembangkan teknologi penangkap air yang sangat bersahaja: jaring penangkap kabut (fog catchers atau atrapanieblas).
Tanpa listrik dan tanpa mesin pompa penyedot, mereka hanya membentangkan lembaran jaring plastik polipropilena di antara dua tiang kayu sederhana untuk memanen ribuan liter air tawar murni dari udara dingin.
Menjaring tetesan mikroskopis yang melayang di angin
Kabut gunung bukanlah uap gas tak kasat mata, melainkan suspensi jutaan butiran air cair mikroskopis (droplets) berdiameter satu hingga empat puluh mikron yang melayang terbawa oleh hembusan angin horizontal. Karena massanya yang sangat ringan, butiran air kabut ini tidak mampu jatuh ke tanah sebagai hujan dan melayang begitu saja melintasi punggung bukit.
Struktur jaring penangkap kabut dirancang untuk mencegat butiran air terbang tersebut. Petani memasang jaring anyaman ganda (Raschel mesh) berbahan plastik polipropilena berlubang halus selebar satu hingga dua milimeter.
Jaring dibentangkan vertikal tegak lurus terhadap arah angin kabut yang bertiup dari lembah.
Ketika kabut tebal bertiup menerobos jaring, jutaan tetesan mikroskopis air menabrak serat-serat benang plastik jaring. Melalui gaya kohesi dan tegangan permukaan, butir-butir renik air yang menempel mulai bergabung satu sama lain (koalesensi), membentuk tetesan air yang lebih besar dan berat.
Aliran gravitasi menuju talang dan tangki tanah
Begitu ukuran tetesan air mencapai diameter dua hingga tiga milimeter, gaya berat gravitasi mengalahkan gaya gesek serat jaring. Tetesan air mulai bergulir turun menyusuri benang-benang jaring menuju bagian bawah.
Tepat di bawah bentangan jaring, dipasang talang seng atau pipa bambu belah sebagai penampung air. Dari talang tersebut, air mengalir tenang melalui pipa selang gravitasi menuju tangki-tangki penampungan atau kolam tanah terpal di kebun sayuran.
Satu bentangan jaring sederhana berukuran empat kali sepuluh meter sanggup memanen antara dua ratus hingga empat ratus liter air tawar jernih per hari di puncak musim kabut.
Air hasil tangkapan kabut ini memiliki kualitas kemurnian yang sangat tinggi dengan kadar mineral terlarut sangat rendah, bebas dari kaporit, dan sangat ideal untuk menyirami perakaran tanaman hortikultura yang sensitif terhadap salinitas.
Menghidupkan kebun lereng tinggi tanpa biaya listrik
Teknologi penangkap kabut membuktikan bahwa sumber daya air di wilayah pegunungan tidak hanya tersimpan di dalam tanah atau sungai dasar jurang.
Petani tidak perlu mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk membeli bensin pompa penyedot air dari sungai di dasar jurang yang terjal dan berbahaya. Udara yang dingin dan basah yang menyelimuti kebun setiap pagi dan petang adalah sungai air tawar yang mengapung di langit.
Di sentra-sentra hortikultura dataran tinggi berkabut tebal di Nusantara, seperti Dieng, Bromo, lereng Kelud, hingga perbukitan Gayo, jaring penangkap kabut membuka jalan bagi kemandirian air di musim kemarau.
Air kehidupan tidak selalu harus ditunggu turun dari langit sebagai hujan deras. Terkadang, air sudah ada di sekeliling dedaunan kebun, menunggu selembar jaring sederhana untuk mengumpulkannya kembali ke tanah pertiwi. (AK)







