Tauco Cianjur: Saus Fermentasi dari Warisan Tionghoa yang Melebur di Lidah Sunda

Petikhasil.id, CIANJUR – Aroma tauco begitu khas: tajam, asin, dan gurih. Bagi masyarakat Cianjur, bumbu ini bukan sekadar penyedap ia adalah sejarah panjang pertemuan budaya Tionghoa dan Sunda yang telah berlangsung lebih dari seabad.

Tauco pertama kali diperkenalkan oleh perantau Tionghoa pada awal abad ke-20, berbarengan dengan berkembangnya industri tahu dan kedelai di Cianjur. Menurut catatan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat (2020), tauco tertua di Cianjur dibuat oleh perusahaan keluarga bernama Toko “Tjoa Tjoan Siang” sekitar tahun 1880-an. Prosesnya tradisional: biji kedelai direbus, difermentasi menggunakan ragi alami selama dua minggu, lalu direndam dalam larutan garam dan dijemur di bawah sinar matahari hingga matang.

Berita Lainya: Tape Singkong (Peuyeum) Bandung: Fermentasi Rasa, Warisan Hangat dari Tanah Priangan | Oncom Bandung: Fermentasi yang Tak Sekadar Sisa

Dari Fermentasi Warisan Menjadi Cita Rasa Nusantara

Keunikan tauco Cianjur terletak pada keseimbangan rasa. Jika tauco Medan atau Pekalongan cenderung asin kuat, tauco Cianjur memiliki rasa gurih ringan dan aroma kacang panggang yang lembut. Karena itu, bumbu ini sering digunakan dalam tumisan sayur, sambal goreng, hingga hidangan tradisional seperti tauco udang dan tahu tauco.

Menurut Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian (IPB, 2021), fermentasi kedelai dalam tauco menghasilkan peptida bioaktif dan asam glutamat alami yang memicu rasa umami. Selain itu, kadar proteinnya mencapai 17%, menjadikannya sumber nutrisi nabati tinggi.

Kini, banyak UMKM di Cianjur mengembangkan produk turunan tauco seperti sambal tauco botolan dan bumbu instan. Beberapa bahkan menembus pasar ekspor ke Singapura dan Malaysia. Tauco Cianjur bukan hanya soal rasa, tapi juga warisan kolaborasi lintas budaya yang membumi di meja makan Nusantara.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *