Petikhasil.id, PANGALENGAN – Di lereng kebun yang berkontur miring, deretan alpukat Hass tumbuh dengan akar yang kuat mencengkeram tanah. Di antara 1.300 pohon itu, ada cerita tentang jalan pulang seorang anak muda yang lama bekerja di bidang teknologi informasi lalu kembali ke kebun.
Yuda menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa dirinya bukan berlatar belakang pertanian. Ia bekerja lebih dari 10 tahun di bidang IT sebelum akhirnya memutuskan membantu sang ayah mengembangkan perkebunan di Pangalengan, Kabupaten Bandung.
“Saya ingin anak muda jangan gengsi jadi petani. Potensinya besar,” ujarnya.
Baca Lainya: Arben Pangalengan Manis di Kebun Rapuh di Perjalanan ke Pasar | Ternyata Jeruk Dekopon Jepang Punya Jejak dari Garut? Fakta dan Mitos di Baliknya
Menurut data Badan Pusat Statistik, sektor pertanian masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Namun Kementerian Pertanian juga mencatat bahwa mayoritas petani berusia di atas 45 tahun. Regenerasi menjadi tantangan besar dalam keberlanjutan sektor pangan nasional.
Di sinilah kisah alpukat Hass Pangalengan menemukan relevansinya.
Bertani Bukan Pilihan Terakhir
Yuda menjelaskan kepada Petik Hasil bahwa banyak anak muda menganggap pertanian identik dengan pekerjaan kotor dan tidak menjanjikan. Padahal potensi nilai ekonomi hortikultura premium seperti alpukat Hass cukup tinggi.
Alpukat Hass dikenal sebagai varietas premium dengan kandungan lemak tak jenuh tunggal yang tinggi. Teksturnya creamy dan dominan gurih. Kulitnya tebal dan bergelombang, membuatnya relatif tahan untuk distribusi jarak jauh.
Harga untuk pasar ekspor bisa mencapai Rp70.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Di pasar domestik pun tetap berada di segmen atas dibanding varietas lokal biasa.
“Kalau kualitas dijaga, pasarnya ada. Tinggal bagaimana kita mengelola,” kata Yuda kepada Petik Hasil.
Kebun seluas lima hektare itu sebelumnya ditanami Lemon California. Setelah produksi menurun pada usia tujuh hingga delapan tahun, keluarga memutuskan beralih ke alpukat Hass. Butuh waktu sekitar tiga tahun hingga pohon mulai berbuah, dan sembilan bulan dari bunga hingga panen.
Masa tunggu yang panjang inilah yang menguji mental petani muda.
Menjaga Alam dan Menjaga Masa Depan
Perkebunan berada di lahan miring yang rawan erosi. Yuda menyampaikan kepada Petik Hasil bahwa pohon alpukat dengan sistem perakaran kuat membantu menjaga struktur tanah dan mengurangi risiko longsor.
“Bertani itu bukan hanya soal panen, tapi juga menjaga alam,” ujarnya.
Ia mengaku semakin memahami makna pertanian setelah terlibat langsung. Dari perawatan rutin, pemupukan kandang dua kali setahun, pengaturan unsur NPK, hingga pengendalian hama penggerek batang, semuanya menuntut ketelitian.
Cuaca menjadi faktor yang tidak bisa dikendalikan. Jika musim hujan datang saat pembesaran buah, kualitas bisa terdampak. Di sisi lain, risiko pencurian hasil panen juga menjadi kekhawatiran. Mereka bahkan melakukan ronda sore untuk memastikan keamanan kebun.
Namun di balik risiko itu, ada kepuasan tersendiri. “Kalau lihat buahnya bagus dan sehat, rasanya puas sekali,” katanya kepada Petik Hasil.
Dari Kebun untuk Kehidupan
Hasil kebun bukan sekadar komoditas. Dari sinilah biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, dan operasional usaha dipenuhi. Selain keluarga, sekitar 10 pekerja juga terlibat dalam perawatan dan pembersihan gulma di kebun tersebut.
Menurut data Kementerian Pertanian, hortikultura bernilai tinggi seperti alpukat memiliki prospek pasar yang terus berkembang, baik domestik maupun ekspor. Permintaan buah sehat meningkat seiring perubahan pola konsumsi masyarakat.
Yuda melihat peluang ini sebagai alasan kuat bagi generasi muda untuk kembali melirik pertanian. Ia tidak menafikan tantangan modal, terutama harga pupuk yang tinggi dan keterbatasan pupuk subsidi. Namun ia percaya perencanaan dan manajemen yang baik dapat menjaga keberlanjutan usaha.
“Jangan gengsi ke kebun. Kalau serius, pertanian itu bisa jadi masa depan,” ujarnya kepada Petik Hasil.
Baca Lainya: Arben Pangalengan Manis di Kebun Rapuh di Perjalanan ke Pasar | Ternyata Jeruk Dekopon Jepang Punya Jejak dari Garut? Fakta dan Mitos di Baliknya
Di Pangalengan, alpukat Hass bukan sekadar varietas premium. Ia menjadi simbol bahwa pertanian bisa bersanding dengan latar belakang modern, bahwa anak IT pun bisa menemukan makna dan masa depan di antara deretan pohon buah.
Di tengah isu krisis regenerasi petani, kisah ini memberi pesan sederhana. Bertani bukan langkah mundur. Ia bisa menjadi jalan maju, asalkan dijalani dengan ilmu, keberanian, dan kesabaran. (Vry)






