Harga Ayam Telur Tertekan Biaya

Petikhasil.id, JAKARTA — Fluktuasi harga ayam dan telur di tengah pasokan yang cukup mengungkap persoalan struktural di sektor perunggasan. Pelaku usaha menghadapi ketidakseimbangan produksi dan lonjakan biaya yang berpotensi mendorong inflasi pangan lebih persisten.

Pergerakan harga kini tidak lagi mengikuti pola musiman. Pelaku pasar menghadapi tekanan dari sisi hulu dan permintaan yang membuat volatilitas bertahan lebih lama.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok bahan makanan, termasuk telur ayam ras, menyumbang inflasi Maret 2026. BPS melaporkan inflasi tahunan mencapai 3,48% dan inflasi bulanan sebesar 0,41%.

Di sisi lain, data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan harga daging ayam ras berada di kisaran Rp38.361 per kg pada 15 April 2026. Harga telur ayam ras juga turun menjadi Rp29.658 per kg.

Kondisi ini menunjukkan pasar belum menemukan keseimbangan antara produksi dan harga. Pasokan yang cukup belum mampu menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Hary Suhada, menegaskan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha untuk menjaga stabilitas pasar.

“Kami memperkuat koordinasi dan melakukan pemantauan berkala agar kebijakan berjalan efektif,” ujarnya.

Baca Juga:Danantara Lakukan Hilirisasi Peternakan Ayam demi Stabilitas Harga Telur Konsumen

Pemerintah mengandalkan kebijakan National Stock Replacement (NSR) untuk mengatur pemasukan dan distribusi bibit sejak awal 2026. Kementerian menyelaraskan perencanaan produksi dengan kebutuhan nasional agar pasokan lebih terkendali.

Selain itu, pemerintah membuka akses impor bibit dari berbagai negara seperti Australia dan Inggris untuk memperkuat pasokan dalam negeri.

Oversupply dan Siklus Tahunan

Pelaku usaha masih menghadapi siklus kelebihan pasokan setelah Lebaran.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia, Mukhlis Wahyudi, menjelaskan harga ayam hidup turun akibat oversupply yang berulang setiap tahun.

“Kami melihat pola ini terus berulang setelah Lebaran. Pasokan mulai terkendali, tetapi harga belum pulih,” ujarnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Dawami, menilai pengaturan produksi menjadi kunci menjaga stabilitas harga.

Tekanan Biaya Kian Dominan

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pelaku usaha kini menghadapi tekanan biaya yang semakin besar.

“Kenaikan harga tidak hanya dipicu faktor musiman, tetapi juga kenaikan biaya pakan, logistik, dan operasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan dinamika geopolitik global mengganggu pasokan bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedelai. Kondisi ini langsung meningkatkan biaya produksi peternak.

Program makan bergizi gratis (MBG) juga meningkatkan permintaan dan memperketat pasokan di pasar.

Bhima memperkirakan kondisi tersebut dapat mendorong inflasi pangan naik 1% hingga 2% dari tren normal.

Ia menekankan pentingnya langkah pemerintah untuk menjaga pasokan bahan baku dan menekan biaya distribusi agar harga tetap terkendali.

Risiko Iklim dan Ketahanan Pangan

Pelaku sektor juga menghadapi risiko iklim seperti El Nino yang dapat menekan produksi jagung sebagai bahan utama pakan ternak.

Kondisi ini menunjukkan stabilitas harga ayam dan telur tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada pengelolaan biaya dan permintaan secara bersamaan.

Tanpa perbaikan menyeluruh di sepanjang rantai pasok, fluktuasi harga berisiko terus berulang dan semakin sulit dikendalikan. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *