Dari Rumah Sentul sampai Tiang Bambu, Orang Indonesia Memang Punya Tradisi Menyimpan Uang Sedekat Mungkin

Petikhasil.id, BANDUNG — Isu tentang uang tunai dan emas yang ditemukan di rumah pribadi Febrie Adriansyah membuat satu kebiasaan lama orang Indonesia mendadak terasa relevan lagi: kalau urusan uang, rumah sering dianggap lebih meyakinkan daripada tempat lain. Pada 10 Juli 2026, Febrie mengakui rumah di Sentul yang digeledah itu memang rumah pribadinya. Ia juga mengatakan uang dan emas yang ditemukan di sana “ada pemiliknya” dan akan dipertanggungjawabkan lewat proses hukum. Di saat yang sama, laporan media menyebut polisi menemukan uang tunai dan emas dalam jumlah sangat besar di rumah tersebut.

Kalau dibaca dari sudut perkara hukum, tentu ceritanya punya jalur sendiri. Namun kalau dibaca dari sudut budaya menyimpan uang, kisah ini justru terdengar sangat Indonesia. Sebab jauh sebelum orang mengenal aplikasi, dompet digital, dan fitur tabungan otomatis, rumah sudah lebih dulu berfungsi sebagai tempat simpan paling dipercaya. Kadang bentuknya lemari, lipatan kain atau kaleng biskuit. Di desa, kadang malah cukup satu tiang bambu.

Baca Lainya: Petani Desa Memang Tidak Bertransaksi Dolar, tetapi Tetap Menanggung Dampaknya | NTP Naik, Kenapa Petani Belum Tentu Lebih Tenang

Rumah memang sering jadi tempat simpan pertama

Ada sesuatu yang sangat akrab dalam cara orang Indonesia memperlakukan uang. Banyak orang tidak merasa tenang bila uangnya terlalu jauh dari mata. Selama masih bisa diselipkan di rumah, rumah selalu terasa lebih masuk akal. Ada rasa kendali. Ada rasa dekat. Dan yang paling penting, ada perasaan bahwa kalau sewaktu-waktu butuh, uang itu bisa langsung diraih tanpa penjelasan macam-macam.

Karena itu, berita tentang uang yang tersimpan di rumah sebenarnya bukan cuma memancing rasa heran. Ia juga memanggil ingatan lama bangsa ini memang punya sejarah panjang menyimpan nilai di ruang yang paling personal, paling dekat, dan paling sulit dibantah, yaitu rumah sendiri.

Orang desa sudah lama punya “sistem penyimpanan” sendiri

Di desa, logika itu bahkan lebih tua dari wacana literasi keuangan. Harian Jogja pernah menulis bahwa di rumah joglo pedesaan, tiang bambu sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan uang. Cerita itu muncul dari pengalaman masa kecil seorang perajin celengan bambu yang melihat langsung bagaimana orang tuanya dulu melubangi tiang bambu rumah lalu memasukkan uang ke dalamnya.

Kalau dipikir-pikir, itu adalah bentuk kearifan finansial yang sangat lokal. Tidak ada biaya admin, potongan bulanan, dan tidak ada notifikasi gagal transaksi. Yang ada hanya sepotong bambu, sedikit lubang, dan keyakinan bahwa uang akan diam manis di tempatnya sampai betul-betul diperlukan.

Jadi, kalau hari ini orang ribut soal uang yang “ternyata disimpan di rumah”, warga kampung mungkin hanya akan mengangguk pelan. Bagi mereka, itu bukan hal baru. Yang baru hanya skalanya.

Bedanya hanya jumlah nol di belakangnya

Tentu saja, rumah bambu di kampung tidak bisa disamakan dengan rumah besar di Sentul. Yang satu lahir dari hidup yang serba pas-pasan. Yang lain masuk ke ruang pemberitaan nasional karena jumlahnya bikin orang menahan napas. Namun ada satu benang halus yang menghubungkan keduanya kepercayaan pada rumah sebagai tempat simpan paling pertama.

Di titik ini perbedaannya memang bukan lagi pada kebiasaan, melainkan pada kelas isinya. Di desa, tiang bambu menyimpan sisa hasil panen, hasil jual ayam, atau uang belanja yang sengaja disisihkan. Sementra di kota, rumah bisa berubah fungsi menjadi sesuatu yang jauh lebih serius. Namun logika dasarnya tetap terasa mirip: uang paling tenang kalau tidak pergi jauh-jauh.

Bagi keluarga tani, uang memang harus dekat

Kebiasaan menyimpan uang di rumah terasa lebih mudah dipahami kalau kita melihat ritme hidup petani. Bagi banyak keluarga tani, uang tidak datang dalam bentuk gaji bulanan yang rapi. Uang datang bertahap. Kadang setelah panen. Kadang setelah menjual telur, sayur, susu, atau hasil kebun sedikit demi sedikit. Karena alurnya seperti itu, rumah sering menjadi tempat simpan yang paling masuk akal.

Uang itu bisa langsung dipakai untuk pupuk, sekolah anak, beras, ongkos berobat, atau menutup kebutuhan rumah tangga yang tak mau menunggu. Dalam pola hidup seperti ini, menyimpan uang dekat rumah bukan sekadar soal kebiasaan lama. Itu soal kecepatan, rasa aman, dan kebutuhan untuk tetap memegang kendali.

Di sinilah masalah yang lebih besar sebenarnya terlihat

Cerita tentang tiang bambu sebenarnya lucu, hangat, dan terasa membumi. Tetapi di balik kelucuannya, ada satu hal yang tidak terlalu lucu banyak orang desa masih belum cukup dekat dengan layanan keuangan formal. Data OJK dan BPS dalam SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat perdesaan hanya 59,60 persen, lebih rendah dari perkotaan yang mencapai 70,89 persen. Indeks inklusi keuangan di perdesaan juga 75,70 persen, di bawah perkotaan yang mencapai 83,61 persen. Pada kelompok pekerjaan, petani, peternak, pekebun, dan nelayan termasuk kelompok dengan literasi dan inklusi lebih rendah daripada rata-rata nasional. Dalam metode keberlanjutan, literasinya tercatat 58,87 persen dan inklusinya 69,40 persen.

Artinya, rumah tidak terus-menerus menjadi “bank pertama” hanya karena orang desa suka cara lama. Kadang rumah menang karena sistem di luar rumah belum terasa cukup dekat, cukup sederhana, atau cukup bersahabat bagi kehidupan mereka.

Yang sering kalah bukan bambunya, tetapi rasa percaya

Bambu itu sederhana. Justru karena sederhana, ia terasa jujur. Orang tahu di mana uangnya, kapan ia menyimpannya, dan kapan harus mengambilnya. Di sisi lain, sistem keuangan formal sering datang dengan bahasa yang terlalu jauh dari ritme hidup petani formulir, syarat, akun, PIN, verifikasi, dan berbagai prosedur yang bagi sebagian orang desa terasa seperti pintu yang tidak sepenuhnya terbuka.

Karena itu, rumah terus menang dalam urusan rasa percaya. Dan selama rasa percaya itu belum dipindahkan ke lembaga keuangan yang lebih formal, tiang bambu, kaleng biskuit, dan lipatan kain akan tetap punya tempat dalam kehidupan banyak keluarga.

Baca Lainya: Petani Desa Memang Tidak Bertransaksi Dolar, tetapi Tetap Menanggung Dampaknya | NTP Naik, Kenapa Petani Belum Tentu Lebih Tenang

Kita memang bangsa yang suka menaruh rasa aman di dalam rumah

Pada akhirnya, kisah rumah Sentul dan tiang bambu memang datang dari dua dunia yang berbeda. Namun keduanya sama-sama memantulkan satu kenyataan yang sangat Indonesia uang bukan cuma soal nilai, tetapi soal rasa aman. Dan rasa aman itu, bagi banyak orang, masih lebih mudah ditemukan di dalam rumah sendiri.

Mungkin itu sebabnya berita seperti ini selalu terasa dekat, meski konteksnya jauh. Sebab di level paling dasar, kita mengenali logikanya. Kita hidup di negeri yang sejak lama percaya bahwa rumah bukan hanya tempat pulang, tetapi juga tempat menyimpan sesuatu yang paling tidak ingin hilang. Hanya saja, ada yang menyimpannya dalam ruas bambu. Ada juga yang memilih cara yang jauh lebih megah. Dan seperti biasa, yang membuat orang heboh sering kali bukan idenya, melainkan ukurannya. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *