Petikhasil.id, KLATEN — Di persawahan pekarangan kawasan Delanggu, Kabupaten Klaten, persiapan lahan sebelum musim tanam sayuran kerap menuntut kerja keras yang menguras tenaga. Petani harus mencabuti rumput liar berduri, mencangkul tanah yang memadat, serta mencari cara membasmi pupa ulat grayak yang bersembunyi di bawah tanah. Di sisi lain, kotoran ayam di kandang belakang rumah kerap menumpuk mengotori lingkungan dan membutuhkan tenaga ekstra untuk diangkut ke sawah.
Dua beban kerja yang melelahkan ini dipadukan menjadi satu sistem kerja otomatis oleh para perancang permakultur di Inggris dan Amerika Serikat melalui inovasi kandang ayam berjalan atau chicken tractor.
Konsep ini bukan traktor bermesin diesel berbahan bakar mahal. Ini adalah kandang ayam portabel beroda ringan berlantai terbuka yang ukurannya disesuaikan persis dengan lebar guludan bedengan sayuran. Petani cukup memindahkan kandang beroda ini petak demi petak setiap beberapa hari sekali.
Cakar ayam yang menggantikan mata garu traktor
Naluri alamiah ayam unggas (Gallus gallus domesticus) adalah mencakar-cakar tanah secara tiada henti untuk mencari makanan. Di dalam kandang konvensional bersekat beton, energi cakar ini terbuang percuma dan menimbulkan polusi bau.
Namun ketika kandang ayam beroda diletakkan di atas bedengan sayuran yang baru selesai dipanen, kawanan ayam yang berada di dalamnya segera mengerahkan energi biologisnya ke tanah.
Cakar-cakar ayam yang tajam mencakar permukaan tanah sedalam lima hingga sepuluh sentimeter, membalik lapisan tanah padat, memecah gumpalan liat, dan menciptakan aerasi udara tanah yang longgar.
Sifat mencakar ayam ini bertindak layaknya mata garu mesin bajak mini yang bekerja terus-menerus dari pagi hingga petang tanpa memerlukan setetes pun bensin solar.
Memangsa telur hama dan benih gulma yang tertidur
Selagi mencakar tanah, mata tajam ayam memburu sasaran biologis yang tidak pernah bisa dijangkau oleh mata manusia atau cangkul biasa. Ayam melahap seluruh larva ulat tanah (agrotis), pupa penggerek batang, siput pemakan daun, hingga rayap tanah yang bersarang di sisa perakaran tua.
Ayam juga mengais dan mematuk jutaan butir biji gulma rumput liar yang tertidur di lapisan atas tanah. Biji-biji gulma tersebut masuk ke dalam ampela berotot ayam (gizzard) dan dihancurkan lumat oleh batu-batu kerikil kecil pencernaan.
Bedengan tanah yang telah dilalui oleh kandang ayam berjalan akan menjadi bersih dari potensi ledakan hama ulat dan rumput liar untuk musim tanam berikutnya tanpa perlu disemprot insektisida atau herbisida kimia.
Sisa-sisa daun tanaman lama yang layu juga dilahap habis oleh ayam, mengubah residu panen menjadi protein telur segar yang dapat dipanen keluarga petani setiap pagi.
Menyuntikkan pupuk kandang segar berkadar nitrogen tinggi
Keuntungan ketiga dari sistem kandang berjalan adalah pemupukan tanah yang merata dan langsung di tempat. Sepanjang hari berada di atas bedengan, kawanan ayam mengeluarkan kotoran segar (droppings).
Kotoran unggas adalah salah satu kotoran ternak dengan konsentrasi hara nitrogen, fosfor, dan kalium tertinggi di antara seluruh hewan ternak. Melalui cakaran kakinya, ayam mengaduk kotoran mereka sendiri dengan seresah tanah dan jerami di bedengan.
Setelah tiga atau empat hari berada di satu petak bedengan, petani cukup mendorong kandang beroda tersebut maju ke petak bedengan berikutnya.
Petak bedengan yang ditinggalkan sudah berada dalam kondisi gembur, bersih dari hama, dan kaya akan cadangan pupuk organik yang siap ditanami bibit baru.
Bagi para petani sayur pekarangan di pedesaan Indonesia, kandang ayam berjalan membuktikan bahwa hewan ternak dan tanaman budidaya bukanlah dua hal yang terpisah. Dengan menyatukan naluri alami hewan ke dalam pola tanam kebun, tanah menjadi subur dan meja makan keluarga terpenuhi oleh sayuran segar sekaligus telur bergizi tinggi. (AK)







