Peluang Peningkatan Ekspor Pertanian

Petikhasil.id, JAKARTA – Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brasil memasuki babak baru yang lebih konkret dan strategis. Kedua negara sepakat memperluas kerja sama di bidang ekonomi, perdagangan, energi, riset, statistik, dan terutama sektor pertanian, seiring dengan kunjungan kenegaraan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva ke Indonesia.

Kunjungan ini menandai momentum penting dalam hubungan dua negara yang sama-sama dikenal sebagai kekuatan besar di sektor agrikultur tropis. Baik Indonesia maupun Brasil memiliki kesamaan karakter ekonomi berbasis sumber daya alam, serta kepentingan yang sama dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, dan gangguan rantai pasok dunia.

Mentan Amran: Indonesia dan Brasil Saling Melengkapi

Menteri Pertanian Indonesia Andi Amran Sulaiman (Mentan Amran) menyampaikan bahwa hubungan pertanian antara kedua negara sudah lama terjalin dan kini berkembang menuju tahap yang lebih operasional.

“Kerja sama antara Indonesia dan Brasil sudah terbangun lama dan sekarang memasuki fase yang lebih konkret. Kedua negara punya potensi besar untuk saling melengkapi,” ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, usai pertemuan bilateral.

Menurut Amran, Indonesia memiliki keunggulan dalam produksi komoditas tropis seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan kelapa, yang merupakan produk ekspor unggulan dengan nilai tambah tinggi di pasar global. Sementara Brasil dikenal sebagai salah satu produsen terbesar dunia untuk sapi, daging, kedelai, dan gandum, komoditas yang dibutuhkan untuk mendukung program ketahanan pangan dan pakan ternak di Indonesia.

“Kami sudah tiga kali bertemu dengan Menteri Pertanian Brasil. Kami dua kali berkunjung ke Brasil, dan mereka juga sudah tiga kali datang ke Indonesia. Yang dibahas adalah bagaimana kerja sama ini bisa saling menguntungkan,” tutur Amran.

Berita Lainya: Peluang Peningkatan Ekspor Pertanian | Aglomerasi Pertanian Jadi Strategi Baru Pengentasan Kemiskinan di Ciayumajakuning

Ia menambahkan, Indonesia berpotensi mengekspor CPO (Crude Palm Oil), kopi, kakao, dan produk kelapa ke Brasil, sementara dari pihak Brasil diharapkan masuknya investasi di sektor peternakan dan gandum ke Indonesia. “Yang paling penting, kami mengundang investasi dari Brasil untuk pengembangan sapi di Indonesia,” katanya menegaskan.

Investasi Peternakan dan Transfer Teknologi

Salah satu bentuk konkret kerja sama Indonesia–Brasil yang telah berjalan adalah rencana investasi pengembangan 100.000 ekor sapi perah tropis asal Brasil di Indonesia. Program ini disepakati pada 12 September 2024 dan akan diimplementasikan dalam beberapa tahap untuk mendukung peningkatan produksi susu dalam negeri.

Nilai investasi program tersebut diperkirakan mencapai Rp4,5 triliun, mencakup pembangunan fasilitas peternakan modern, pusat pembibitan sapi tropis, serta program pelatihan bagi peternak lokal. Model pengembangannya menggunakan sistem public-private partnership (PPP) dengan melibatkan perusahaan swasta Brasil dan BUMN sektor pangan Indonesia.

Selain di bidang peternakan, kerja sama juga meliputi transfer teknologi pertanian dan pengembangan riset bersama. Pada 30 Oktober 2023, Kementerian Pertanian Indonesia telah mengundang Brasil untuk berinvestasi dalam sektor gula dengan tujuan mempercepat pencapaian swasembada gula nasional. Pemerintah Brasil menyambut baik ajakan tersebut mengingat mereka memiliki sistem industri gula berbasis tebu yang modern dan efisien, termasuk penerapan mekanisasi pertanian serta energi biomassa berbasis etanol.

Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mendukung produktivitas dan efisiensi industri gula Indonesia, tetapi juga membantu proses alih teknologi dan peningkatan kapasitas SDM pertanian nasional.

Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

Mentan Amran menegaskan bahwa kerja sama strategis dengan Brasil merupakan langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional salah satu agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Presiden selalu menekankan bahwa kedaulatan pangan tidak bisa ditawar. Karena itu, setiap kerja sama harus memberi manfaat langsung bagi peningkatan produksi dan kesejahteraan petani kita,” ujar Amran.

Ia menjelaskan, Brasil adalah salah satu contoh negara yang berhasil menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Negara tersebut tidak hanya menjadi eksportir utama daging sapi dan kedelai dunia, tetapi juga memiliki sistem riset pertanian dan kebijakan pangan yang kuat melalui lembaga seperti Embrapa (Brazilian Agricultural Research Corporation).

Dengan menggandeng Brasil sebagai mitra strategis, Indonesia dapat mempelajari dan mengadaptasi berbagai praktik terbaik (best practices) dalam hal pengelolaan rantai pasok pangan, efisiensi lahan, diversifikasi komoditas, hingga penggunaan teknologi digital dalam pertanian.

Kolaborasi untuk Ekonomi Hijau dan Inklusif

Selain sektor pangan, kerja sama Indonesia–Brasil juga diarahkan untuk mendukung agenda ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan. Kedua negara memiliki komitmen bersama dalam menurunkan emisi karbon di sektor pertanian dan peternakan, serta memperluas penerapan praktik pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture).

Brasil, yang dikenal dengan keberhasilannya mengembangkan bioetanol berbasis tebu, dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam memperkuat program energi hijau berbasis biomassa dan biofuel. Kerja sama di bidang ini diharapkan mendukung upaya transisi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di sektor pertanian.

Sementara itu, di bidang statistik dan riset pertanian, kedua negara juga berencana menjalin kerja sama pertukaran data dan metodologi statistik pertanian, guna memperkuat kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy making). Langkah ini penting untuk memantau produksi pangan, iklim, dan produktivitas sektor agrikultur secara lebih akurat.

Dari Diplomasi ke Implementasi

Kunjungan kenegaraan Presiden Lula da Silva kali ini menegaskan semangat baru dalam diplomasi ekonomi antara Indonesia dan Brasil. Dalam pertemuan bilateral di Jakarta, kedua negara juga menegaskan pentingnya mempercepat realisasi proyek-proyek yang telah disepakati, agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.

“Yang kita inginkan bukan hanya penandatanganan nota kesepahaman, tetapi implementasi nyata di lapangan. Investasi sapi, gula, dan kerja sama riset ini harus berjalan agar produktivitas meningkat,” tegas Mentan Amran.

Ia menambahkan, sinergi antara Indonesia dan Brasil tidak hanya akan memperkuat posisi masing-masing negara sebagai kekuatan agraris global, tetapi juga menciptakan rantai pasok pangan baru yang lebih stabil di kawasan selatan dunia.

Simbol Solidaritas Selatan–Selatan

Kerja sama antara Indonesia dan Brasil juga mencerminkan semangat solidaritas Selatan–Selatan (South–South Cooperation), yaitu kolaborasi antarnegara berkembang untuk memperkuat kemandirian ekonomi, teknologi, dan ketahanan pangan.

Kedua negara memiliki pengalaman dan tantangan yang serupa dalam membangun pertanian tropis berdaya saing tinggi. Melalui kemitraan strategis ini, Indonesia berupaya memposisikan diri sebagai pusat pertanian modern di Asia, sementara Brasil menjadi mitra kunci di kawasan Amerika Latin.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama antarnegara berkembang dapat menjadi alternatif kuat terhadap dominasi pasar global yang selama ini lebih banyak dikendalikan oleh negara-negara maju.

Menuju Pertanian Modern dan Berdaya Saing

Dengan berbagai inisiatif dan investasi yang telah disepakati, kerja sama Indonesia–Brasil diharapkan menjadi katalis menuju pertanian yang modern, berdaulat, dan berkelanjutan.

Melalui sinergi di sektor peternakan, gula, riset, dan energi terbarukan, Indonesia berpotensi mempercepat transformasi pertanian menuju sistem yang berbasis teknologi, efisiensi, dan ketahanan terhadap perubahan iklim.

“Kolaborasi dengan Brasil ini adalah langkah nyata untuk membangun sektor pertanian yang tangguh, mandiri, dan memberikan kesejahteraan bagi petani Indonesia,” pungkas Mentan Amran.

Kerja sama strategis ini tidak hanya mempererat hubungan diplomatik dua negara di belahan dunia berbeda, tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama dalam membangun masa depan pertanian global yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *