Taro Naik Kelas dari Umbi Pekarangan Jadi Komoditas Ekspor Baru Indonesia

Petikhasil.id, BOGOR— Di banyak desa, talas dulu hanya dianggap pangan pelengkap. Dimasak rebus, digoreng, atau dijadikan camilan sore. Tapi kini, nama globalnya taro kembali naik daun, bukan sekadar sebagai bahan pangan, tapi juga peluang ekspor baru yang lahir dari kebun rakyat. Dari Bogor, Pandeglang, hingga Sinjai, kisah taro Indonesia mulai membentuk jejak baru di pasar dunia.

Di Bogor, talas sudah lama menjadi bagian dari identitas kota. Jenis yang terkenal antara lain talas bentul, talas mentega, dan talas ketan, masing-masing punya tekstur dan rasa khas. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen talas nasional memang belum sebesar padi atau jagung, namun permintaan produk olahannya terus meningkat seiring tren pangan sehat dan diversifikasi karbohidrat lokal.

Salah satu petani talas Bogor, Suganda (52), menuturkan bahwa varietas lokal semakin sulit ditemukan karena banyak petani beralih ke varietas talas Jepang yang lebih cepat tumbuh dan hasilnya lebih besar. “Talas lokal sekarang makin langka. Padahal rasanya lebih gurih dan disukai untuk olahan tradisional,” ujarnya saat ditemui di Kecamatan Ciomas, Bogor Barat.

Di sisi lain, riset Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan pola tanam tumpangsari atau polikultur justru lebih efektif untuk budidaya talas. Sistem ini tidak hanya menjaga produktivitas, tapi juga mengurangi serangan hama dan menjaga kelembapan tanah. Pendekatan ini bisa menjadi kunci regenerasi petani muda yang ingin mengembangkan talas tanpa lahan luas.

Talas Beneng dari Banten, Dari Liar Jadi Primadona Ekspor

Berbeda dengan Bogor yang sudah lama dikenal dengan “talas khas kota hujan”, Pandeglang punya bintang baru Talas Beneng (Xanthosoma undipes). Awalnya tanaman liar di kaki Gunung Karang, kini Beneng telah dilepas sebagai varietas resmi melalui SK Menteri Pertanian Nomor 160/Kpts/KB.020/3/2020.

Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang, luas tanam talas Beneng meningkat dari 42 hektare pada 2015 menjadi 88 hektare pada 2019. Umbinya bisa mencapai panjang 1 meter dan berat hingga 20 kilogram per batang. Tak hanya itu, daun Beneng kini diolah menjadi serbuk substitusi tembakau herbal dan telah diekspor ke Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Vietnam.

Dari sisi ekonomi, satu hektare lahan talas Beneng dapat menghasilkan 15–20 ton umbi segar. Setelah diolah menjadi tepung, nilai tambahnya bisa meningkat hingga tiga kali lipat. Namun, tantangannya ada pada kapasitas pengolahan sebagian besar industri masih berskala rumah tangga dengan produksi rata-rata hanya 1 ton tepung per bulan.

Sulawesi Selatan dan Jalur Ekspor Talas Jepang

Di wilayah timur Indonesia, tepatnya Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, petani kini mulai menanam talas Jepang (satoimo) untuk memenuhi permintaan ekspor. Menurut laporan Dinas Pertanian Sulsel (2024), kebutuhan pasar Jepang mencapai 3.000 ton per bulan, sementara suplai dari Indonesia baru memenuhi sekitar 5 persen.

Pemerintah daerah telah memberikan hibah modal penanaman seluas 178 hektare untuk mendukung ekspor satoimo di sepuluh kabupaten. Dukungan ini mencakup penyediaan bibit unggul, pelatihan budidaya, dan penjaminan pasar melalui koperasi ekspor. Namun, menurut Kepala Bidang Hortikultura Sulsel, tantangan terbesar ada pada standar kualitas ekspor dan ketepatan panen, sebab pasar Jepang menuntut ukuran umbi yang seragam dan bebas getah.

Taro Sebagai Peluang Pangan Lokal Bernilai Global

Indonesia sejatinya memiliki keunggulan agroklimat yang mendukung tumbuhnya berbagai jenis talas: dari dataran rendah lembap hingga dataran tinggi beriklim basah. Tanaman ini relatif tahan kekeringan ringan, bisa ditanam di sela-sela kebun, dan memiliki umur panen 6–8 bulan lebih cepat dibanding singkong atau ubi jalar.

Dari sisi gizi, taro kaya akan karbohidrat kompleks, serat pangan, dan mineral seperti kalium dan magnesium. Kandungan pati halusnya menjadikannya bahan alternatif tepung bebas gluten yang semakin diminati industri makanan sehat. Tidak heran, produk olahan taro kini banyak ditemui dalam bentuk keripik, kue kering, bubur instan, dan minuman serbuk.

Kementerian Pertanian juga menempatkan talas dalam program diversifikasi pangan lokal, sejalan dengan arahan agar konsumsi karbohidrat masyarakat tidak bergantung pada beras dan terigu impor. Bila ekosistemnya dibangun dengan baik dari bibit, pascapanen, hingga industri olahan taro bisa menjadi salah satu pilar baru pangan nasional.

Dari Umbi Tradisional ke Masa Depan Hijau

Perjalanan taro Indonesia menunjukkan pola menarik dari Bogor yang berjuang menjaga varietas lokal, Pandeglang yang berhasil menemukan nilai tambah baru, hingga Sulawesi Selatan yang menatap ekspor dengan varietas satoimo. Setiap daerah membawa cerita yang sama bahwa umbi ini tidak lagi sekadar “pangan kampung”, tetapi bagian dari masa depan pangan dan ekonomi hijau Indonesia.

“Selama kita mampu mengolahnya dengan baik, talas bukan cuma nostalgia. Ia bisa jadi masa depan,” kata Suganda pelan, sambil menunjuk ke rumpun talas yang baru ia tanam ulang setelah panen sebelumnya. (Vry)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *