Petikhasil.id, SUMEDANG — Ciplukan terkenal tumbuh liar tanpa perawatan. Tapi untuk hasil maksimal, perlu sedikit sentuhan tangan manusia. “Yang bikin ciplukan menarik, dia bisa tumbuh di mana saja. Tapi kalau mau hasil bagus, tanahnya harus gembur, agak berpasir, dan cukup sinar matahari,” ujar seorang petani muda di Tanjungsari yang kini menanam ciplukan di lahan setengah hektare.
Berita Lainya: Dari Semak ke Pasar, Kisah Ciplukan yang Tak Disangka | Tanaman Anggur, Hiasan Estetik yang Bisa Ditanam di Rumah atau Kafe dan Tetap Berbuah Manis
Penanaman ciplukan bisa dimulai dari biji yang dikeringkan dari buah matang. Biji disemai di media campuran tanah, kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1. Setelah berumur 3 minggu, bibit siap dipindahkan ke lahan. Ciplukan mulai berbuah pada usia 70–90 hari setelah tanam.
Penyiraman cukup dilakukan sekali sehari, tanpa genangan. Pemupukan bisa menggunakan pupuk kandang fermentasi dua kali dalam satu siklus panen. Yang perlu diperhatikan hanyalah hama ulat daun dan kutu putih bisa diatasi dengan pestisida nabati dari bawang putih dan daun pepaya.
Ciplukan termasuk tanaman yang low maintenance, cocok untuk pemula. Panen dilakukan saat kelopak buah mulai kering dan buah berubah warna menjadi oranye keemasan. Dalam satu musim, satu batang ciplukan bisa menghasilkan 500–800 gram buah segar.
“Kalau dikelola serius, bahkan pekarangan kecil bisa jadi tambahan penghasilan,” kata seorang pelaku UMKM di Garut yang kini mengolah ciplukan jadi selai dan manisan.






