Petikhasil.id, JAKARTA — Fluktuasi harga beras kembali menguji ketahanan sistem pangan nasional. Ketergantungan tinggi terhadap satu komoditas mendorong tekanan harga cepat merambat ke berbagai lini konsumsi.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah terus mendorong diversifikasi pangan. Namun, pelaku sektor pangan masih menghadapi tantangan struktural yang belum sepenuhnya teratasi.
Dominasi Beras Sulit Tergeser
Mayoritas masyarakat Indonesia masih menjadikan nasi sebagai pangan utama. Faktor budaya, ketersediaan, dan kemudahan akses membentuk preferensi tersebut.
Sistem pangan nasional selama ini berfokus pada beras. Pemerintah, pelaku usaha, dan infrastruktur distribusi memperkuat posisi komoditas ini dibandingkan pangan alternatif.
Deputi Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menegaskan diversifikasi menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan.
Ia menyebut masyarakat terus meningkatkan kualitas konsumsi, yang tercermin dari skor Pola Pangan Harapan mencapai 95,1 pada 2025.
Namun, peningkatan kualitas tersebut belum mengubah struktur konsumsi. Masyarakat masih mengandalkan beras dan terigu, sementara pangan lokal belum berkembang optimal.
Baca Juga:Stok Beras 4,2 Juta Ton dan Ujian El Nino bagi Sawah Indonesia
Ketergantungan Masih Tinggi
Kebutuhan beras nasional diperkirakan mencapai 31 juta ton pada 2026. Rumah tangga mengonsumsi sekitar 22,58 juta ton atau 87,3 kg per kapita per tahun.
Angka tersebut menunjukkan dominasi beras masih jauh melampaui konsumsi singkong, jagung, dan sagu.
Sistem Pangan Membentuk Pola Konsumsi
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance, Afaqa Hudaya, menilai sistem pangan nasional membentuk dominasi beras secara struktural.
Ia menilai kebijakan pemerintah yang berfokus pada beras, termasuk subsidi dan bantuan sosial, memperkuat ketergantungan tersebut.
Menurutnya, pemerintah perlu membangun pasar pangan alternatif secara aktif, bukan sekadar menjalankan program normatif.
Hambatan Konsumen dan Distribusi
Masyarakat masih mengutamakan kepraktisan dalam memilih pangan. Beras menawarkan kemudahan akses dan pengolahan dibandingkan pangan lokal.
Ketua Badan Agroekologi Serikat Petani Indonesia, Kusnan, menilai masyarakat masih memiliki ketergantungan psikologis terhadap beras.
Ia melihat tren konsumsi pangan non-beras mulai tumbuh di perkotaan, tetapi tren tersebut belum mengubah pola konsumsi secara nasional.
Petani Tetap Andalkan Padi
Petani masih memilih padi karena pasar menyerap hasil panen secara konsisten. Dukungan irigasi, teknologi, dan pengalaman budidaya juga memperkuat pilihan tersebut.
Komoditas seperti singkong dan sorgum sebenarnya memiliki potensi besar, terutama dalam menghadapi perubahan iklim. Namun, petani menghadapi keterbatasan benih, industri pengolahan, dan distribusi.
Kusnan menegaskan petani tidak akan memperluas tanam tanpa kepastian pasar.
Harga dan Logistik Tekan Pangan Lokal
Harga pangan alternatif belum mampu bersaing di pasar. Biaya logistik yang tinggi turut menekan daya saing produk lokal.
Kondisi ini membuat diversifikasi sulit berkembang tanpa intervensi yang lebih kuat dari pemerintah.
Pemerintah Percepat Diversifikasi
Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 untuk mempercepat penganekaragaman pangan berbasis potensi lokal.
Melalui kebijakan ini, pemerintah meningkatkan produksi, memperkuat industri pengolahan, memperbaiki distribusi, dan mendorong penciptaan pasar.
Pemerintah juga mengedukasi masyarakat, mengkampanyekan pangan lokal, serta mengintegrasikan diversifikasi dalam program bantuan sosial.
Perubahan Butuh Proses Panjang
Afaqa Hudaya memperkirakan dampak awal diversifikasi mulai terlihat dalam 3 hingga 5 tahun.
Ia menilai perubahan besar membutuhkan waktu lebih lama karena pemerintah harus mengubah kebiasaan konsumsi, sistem distribusi, dan struktur industri pangan secara bersamaan.
Momentum Kurangi Ketergantungan
Tekanan harga beras memperkuat urgensi diversifikasi pangan. Pemerintah perlu memperbaiki ekosistem dari hulu hingga hilir agar kebijakan berjalan efektif.
Dalam jangka panjang, keberhasilan diversifikasi bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan membangun sistem pangan yang lebih beragam dan berkelanjutan. (PtrA)






