Jabar Perkuat Resi Gudang untuk Petani Kopi, Teh, dan Kakao

Petikhasil.id, BANDUNG — Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memperkuat Sistem Resi Gudang (SRG) untuk membantu petani kopi, teh, dan kakao meningkatkan nilai jual hasil panen. Melalui skema ini, petani bisa menyimpan komoditas saat harga rendah lalu menjualnya ketika harga pasar lebih menguntungkan.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat sektor perkebunan Jawa Barat. Selain itu, pemerintah berharap program ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai sentra produksi.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Nining Yuliastiani mengatakan banyak petani masih menghadapi tekanan harga saat musim panen. Karena keterbatasan fasilitas penyimpanan, petani sering menjual hasil panen segera setelah memetiknya.

Akibatnya, petani sulit memperoleh harga terbaik ketika pasokan melimpah di pasar. Oleh karena itu, pemerintah mendorong pemanfaatan Sistem Resi Gudang sebagai solusi untuk memperkuat posisi tawar petani.

“Petani tidak harus menjual hasil panennya saat harga sedang murah. Komoditas bisa disimpan di gudang terstandarisasi dengan kualitas dan kuantitas yang tetap terjaga,” kata Nining, Senin (15/6/2026).

Baca Juga: ABMM Kembangkan Kopi Aranio | Kopi dan Kesehatan Usus Ternyata Saling Berkaitan

Petani Lebih Fleksibel Menjual Hasil Panen

Melalui Sistem Resi Gudang, petani menyimpan kopi, teh, atau kakao di gudang terakreditasi yang memenuhi standar Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Selanjutnya, pengelola gudang menerbitkan resi sebagai bukti kepemilikan komoditas. Setelah itu, petani menggunakan resi tersebut untuk mengajukan pembiayaan ke perbankan.

Dengan cara itu, petani tetap memperoleh modal usaha tanpa harus menjual hasil panen saat harga belum menguntungkan. Bahkan, petani dapat menunggu momentum ketika harga pasar bergerak naik.

Karena itu, petani memiliki keleluasaan yang lebih besar dalam menentukan waktu penjualan dan strategi usaha.

Perkuat Rantai Pasok Komoditas Perkebunan

SRG tidak hanya membantu petani memperoleh akses modal. Di sisi lain, program ini juga memperkuat rantai pasok komoditas perkebunan di Jawa Barat.

Gudang SRG mengumpulkan kopi, teh, dan kakao dalam jumlah besar dengan mutu yang lebih terjaga. Dengan demikian, pelaku usaha lebih mudah memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Selain itu, konsolidasi komoditas membantu pelaku usaha menjaga kualitas produk secara lebih konsisten. Alhasil, daya saing kopi, teh, dan kakao asal Jawa Barat dapat meningkat.

Nining menilai langkah tersebut penting karena pasar global semakin menuntut kualitas dan kontinuitas pasokan.

Disperindag Dorong Standarisasi Gudang

Sementara itu, Disperindag Jawa Barat terus mendorong pemerintah daerah, koperasi, dan sektor swasta untuk mengembangkan lebih banyak gudang SRG.

Pemerintah ingin setiap gudang memenuhi standar Bappebti. Dengan begitu, petani dapat memanfaatkan fasilitas penyimpanan dan pembiayaan secara optimal.

Lebih lanjut, Nining menegaskan bahwa kualitas gudang sangat menentukan keberhasilan program. Sebab, kualitas penyimpanan berpengaruh langsung terhadap mutu komoditas yang tersimpan.

“Kami mendorong agar standarisasi gudang bisa tercapai sehingga fasilitas SRG dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para petani dan pelaku usaha,” katanya.

Harapan Baru bagi Petani

Bagi petani kopi, teh, dan kakao, Sistem Resi Gudang membuka peluang baru untuk mengelola hasil panen secara lebih fleksibel.

Sebelumnya, banyak petani harus segera menjual hasil panen untuk memenuhi kebutuhan modal. Kini, petani dapat menyimpan komoditas terlebih dahulu sambil menunggu harga yang lebih baik.

Baca Juga: ABMM Kembangkan Kopi Aranio | Kopi dan Kesehatan Usus Ternyata Saling Berkaitan

Tidak hanya itu, petani juga bisa memperoleh akses pembiayaan tanpa kehilangan kepemilikan atas hasil panennya.

Pada akhirnya, SRG tidak hanya membantu petani menjaga pendapatan. Program ini juga memperkuat posisi tawar petani dalam rantai perdagangan komoditas perkebunan. Karena itu, pemerintah berharap semakin banyak petani memanfaatkan fasilitas tersebut untuk mengembangkan usaha mereka. (PtrA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *