Petikhasil.id, KAB BANDUNG BARAT – Bertani tidak selalu tentang hasil panen yang melimpah. Ada masa-masa ketika hasil tanaman gagal, harga turun, atau produk tidak diterima pasar. Tapi di situlah nilai sejati dari dunia pertanian ketekunan dan proses belajar yang tak pernah berhenti.
Hal inilah yang dialami Nabila Farm, sebuah usaha pertanian modern di Lembang, Jawa Barat, yang kini dikenal luas karena keberhasilannya mengembangkan sayuran hidroponik, buah-buahan, dan bibit alpukat unggulan.
Namun, perjalanan menuju titik itu tidaklah mudah. Di balik hijaunya kebun dan ramainya pengunjung, tersimpan cerita tentang kegigihan dan pembelajaran dari kegagalan.
Tantangan di Awal Perjalanan
Ketika pertama kali berdiri pada tahun 2017, Nabila Farm menghadapi berbagai kesulitan yang umum dialami pelaku pertanian.
Salah satunya adalah harga jual produk yang rendah, padahal biaya produksi — terutama untuk hidroponik tidak murah.
“Rasanya seperti petani-petani lain juga, produk yang kami hasilkan dibayar sangat murah,” kenang Nabila Putri Wahyu, penerus Nabila Farm.
“Padahal, untuk menghasilkan satu jenis sayur hidroponik itu butuh waktu, nutrisi, dan perawatan khusus.”
Kesadaran masyarakat tentang perbedaan antara sayuran biasa dan sayuran hidroponik juga masih rendah. Banyak konsumen belum memahami mengapa harga sayur hidroponik sedikit lebih tinggi, padahal kualitas dan kebersihannya jauh lebih baik.
Baca lainnya: Potensi Wisata Pertanian di Lembang: Menyimak Peran Nabila Farm sebagai Ruang Belajar dan Hiburan | Petani Milenial Go Digital: Saatnya Bertani Jadi Gaya Hidup Anak Muda
Kendala Kualitas dan Standar Supermarket
Tantangan lain datang ketika Nabila Farm mencoba menembus pasar ritel modern.
Supermarket besar memiliki standar yang sangat ketat untuk menerima produk pertanian.
“Sayur atau buah tidak boleh punya cacat sedikit pun,” ujar Nabila.
“Bahkan kulit alpukat yang lecet sedikit saja bisa membuat produk ditolak.”
Bagi petani pemula, hal ini menjadi ujian berat. Tidak sedikit produk yang akhirnya harus ditarik kembali karena tidak lolos standar visual, meskipun sebenarnya masih layak konsumsi.
Namun, daripada menyerah, tim Nabila Farm memilih belajar dari penolakan tersebut. Mereka terus memperbaiki proses panen, penyortiran, dan pengemasan agar sesuai dengan standar industri modern.
Edukasi Konsumen: Mengubah Cara Pandang Terhadap Produk “Defect”
Salah satu langkah inovatif yang dilakukan Nabila Farm adalah kampanye edukasi mengenai produk pertanian yang ‘defect’ tapi masih layak konsumsi.
Contohnya, mereka menjual alpukat grade C dengan harga terjangkau. Secara tampilan, kulitnya mungkin tidak sempurna, tapi bagian dalamnya masih sangat bagus dan rasanya sama dengan alpukat premium.
“Supermarket menolak karena alasan estetika, bukan kualitas nutrisi. Jadi kami edukasi konsumen bahwa yang jelek di luar belum tentu jelek di dalam,” ujar Nabila.
Langkah ini disambut positif oleh konsumen. Selain membantu mengurangi food waste, strategi ini juga membuka peluang pasar baru untuk produk “imperfect” yang selama ini terbuang.
Dukungan Komunitas dan Konsumen
Perjalanan Nabila Farm juga tidak lepas dari dukungan masyarakat dan komunitas lokal.
Banyak pengunjung yang datang untuk belajar, memberi masukan, bahkan ikut membantu promosi produk mereka di media sosial.
Hal ini menjadi bukti bahwa pertanian bukan hanya urusan petani, tapi juga urusan bersama.
Dengan keterlibatan publik, edukasi, dan transparansi, Nabila Farm berhasil membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen.






