Petikhasil.id, BANDUNG — Pemerintah menargetkan penyediaan 16 juta benih kelapa siap salur pada 2026 untuk mendukung program hilirisasi perkebunan. Di balik target besar itu, proses pembibitan menjadi tahapan penting yang akan menentukan kualitas tanaman kelapa di lapangan dalam beberapa tahun ke depan.
Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ismail Maskromo, mengatakan pembibitan kelapa dapat dilakukan menggunakan polibag maupun tanpa polibag. Namun masing-masing metode memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
Menurut Ismail, penggunaan polibag membantu menjaga pertumbuhan bibit hingga umur delapan bulan atau lebih karena akar tetap terlindungi saat pemindahan tanam.
Sebaliknya, pembibitan tanpa polibag hanya ideal sampai umur sekitar enam bulan. Semakin tua umur bibit, risiko kerusakan akar saat pindah tanam juga semakin besar.
Baca Juga: Cirebon Siapkan Benih Tebu Unggul
Polibag Cocok untuk Lahan Bermasalah
Ismail menjelaskan penggunaan polibag menjadi pilihan penting ketika lahan utama memiliki kualitas tanah yang kurang baik, seperti lahan gambut, tanah masam, atau tanah berpasir ekstrem.
Dalam kondisi seperti itu, polibag membantu penangkar mengontrol media tanam dan kebutuhan unsur hara pada fase awal pertumbuhan kecambah.
Selain itu, polibag juga memudahkan proses seleksi bibit karena penangkar dapat mengawasi pertumbuhan tanaman satu per satu.
“Ada kondisi yang mengharuskan pembibitan kelapa menggunakan polibag, terutama ketika kualitas tanah lahan utama kurang baik,” ujar Ismail.
Meski demikian, ia menilai keberhasilan pembibitan tidak hanya bergantung pada penggunaan polibag. Perlakuan, perawatan, dan pemeliharaan bibit tetap menjadi faktor utama.
Benih Harus Berasal dari Pohon Induk Terpilih
Ismail menekankan benih kelapa harus berasal dari pohon induk yang sudah terseleksi, bebas hama dan penyakit, serta memiliki ukuran dan warna buah yang normal.
Dalam proses pembibitan, penangkar juga perlu memperhatikan lokasi persemaian. Lokasi ideal biasanya dekat sumber air, memiliki permukaan datar, terbuka, bersih, dan tidak jauh dari lahan penanaman.
Setelah itu, penangkar perlu melakukan penyayatan benih, pendedaran, hingga pemeliharaan persemaian secara rutin.
Ketika benih mulai berkecambah, penangkar harus kembali melakukan seleksi sebelum memindahkan bibit. Ismail menyebut kecambah layak pindah umumnya memiliki panjang tunas sekitar 3–5 sentimeter.
Jika penangkar menggunakan polibag, bagian bawah polibag perlu diberi lubang agar drainase berjalan baik. Penangkar juga sebaiknya memakai tanah gembur yang sudah diayak sebagai media tanam.
Sementara untuk pembibitan tanpa polibag, penangkar harus memastikan lahan pembibitan benar-benar bersih, datar, dan siap tanam.
Penangkar Utamakan Efisiensi Tanpa Polibag
Di lapangan, sebagian penangkar memilih metode tanpa polibag karena lebih praktis dan efisien.
Produsen benih kelapa asal Pangandaran, Hendy Kuswaya, mengatakan dirinya lebih sering memakai metode tanpa polibag sejak mulai menangkar pada 2014.
Menurut Hendy, benih kelapa sebenarnya sudah memiliki cadangan makanan dan media tanam alami dari sabut kelapa. Karena itu, ia menilai penggunaan polibag tidak selalu diperlukan.
Selain itu, penggunaan polibag juga membuat jumlah bibit dalam satu lahan menjadi lebih sedikit. Bobot bibit yang lebih berat juga menyulitkan proses pengiriman.
Hendy mengaku mampu memproduksi sekitar 30 ribu bibit kelapa setiap tahun dengan tingkat keberhasilan hidup mencapai 90 persen.
Ia menilai kualitas program penyediaan 16 juta benih kelapa nantinya sangat bergantung pada kemampuan penangkar, pembinaan dari dinas terkait, dan ketersediaan benih sumber yang bermutu.
Bagi petani kelapa, kualitas bibit memang menjadi investasi jangka panjang. Kesalahan pada tahap awal pembibitan bisa memengaruhi produktivitas tanaman selama puluhan tahun. Karena itu, target besar penyediaan benih tidak cukup hanya mengejar jumlah, tetapi juga perlu menjaga mutu agar kebun kelapa yang tumbuh benar-benar mampu menopang industri hilir di masa depan. (PtrA)






